PANJI-PRATAMA.COM – Pada kesempatan kali ini, KH. Sofyan Sauri menyampaikan kuliah subuh dengan tema “Mencermati Makna Perbuatan yang Baik dan Menghapus Perbuatan yang Buruk”. Tema ini berdasarkan tafsir QS. Hud ayat 114, yang artinya:
“Dan dirikanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah).” (QS. Hud: 114)
Pada bagian awal, Prof. Sofyan mencoba menguraikan asal muasal ayat ini berdasarkan interpretasi para mufasir. Tafsir Al-Kasyfu wal Bayan karya Imam Abu Ishaq Ahmad Ats-Tsa`labi menjelaskan bahwa ayat ini Allah turunkan berkaitan dengan sahabat Nabi yang bernama Abu Al-Yusr ‘Amr bin Ghazyah Al-Anshari, yang bekerja sebagai seorang penjual buah kurma.
Ia bertanya kepada Rasulullah Saw.: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang hendak menodai seorang perempuan?”. Rasulullah tidak menjawab dan kemudian salat asar berjamaah bersama Abu Al-Yurs. Setelah salat, Rasulullah menerima wahyu dari Allah melalui perantara malaikat Jibril, yaitu surah Hud ayat 114.
Kemudian, Rasulullah Saw. memanggil Abu Al-Yurs dan berkata: “Pergilah… sesungguhnya salat asarmu sebagai penebus atas apa yang engkau kerjakan.”
Jadi, turunnya ayat ini mencandrakan bahwa salat itu adalah sebagai penebus dosa, pelebur dosa yang pernah manusia lakukan, dan hal itu berlaku kepada semua orang, bukan hanya Abu Al-Yurs saja. Karena Rasulullah Saw. juga mengatakan kepada Abu Al-Yurs bahwa manfaat salat ini berlaku untuk setiap orang.
“Lalu, apa kandungan dari ayat itu?” tanya Prof. Sofyan kepada hadirin yang menyaksikan ceramahnya.
Baca Juga: Resep Rahasia Kacang Panjang Sambal Petai, Bikin Semangat Setelah Sakit
Ayat ini mengandung perintah dan peringatan kepada manusia untuk mendirikan salat, karena salat termasuk amal dan perbuatan baik sehingga dosa-dosa manusia dapat Allah hapus dengan cara melakukan perbuatan baik tersebut.
Oleh sebab itu, Ibnu Arabi dalam Faidlul Qadir mengatakan bahwa kebaikan akan menghapus keburukan, baik sebelumnya atau setelahnya karena pelaksanaan kebaikan setelah keburukan itu lebih baik, perbuatan itu lahir dari hati, dan berpengaruh dengannya. Maka, jika ia melakukan kebaikan, itu menunjukkan hatinya yang baik. Dan jika ia melakukan perbuatan yang baik, itu timbul dari pilihan hati sehingga menghapus keburukan yang manusia lakukan sebelumnya.
Menurut Imam al-Ghazali di dalam kitab Minhâjul ‘âbidîn menuturkan bahwa secara garis besar ada tiga macam kategori dosa dan cara meleburnya.
Baca Juga: Resep Rahasia Tumis Ati Ayam Sambal Jahe, Bikin Senyum Pas Lagi Capek
Pertama, meninggalkan kewajiban-kewajiban yang Allah tetapkan kepadamu seperti salat, puasa, zakat, kafarat, dan lainnya. Maka, untuk meleburnya kita harus mengqada kewajiban-kewajiban tersebut selagi memungkinkan.
Kedua, dosa-dosa di antaramu dan Allah seperti meminum minuman khamr, memakan riba, dan sebagainya. Maka, untuk meleburnya maka kita harus menyesali perbuatan-perbuatan tersebut dan menetapkan hati kita untuk tidak akan mengulanginya lagi selamanya.
“Nah, dosa mendengarkan ucapan-ucapan yang tak baik dapat lebur dengan mendengarkan bacaan Alquran. Dosa memakan harta riba dapat dilebur dengan bersedekah makanan yang halal dan baik. Dosa berdiam diri di masjid dalam keadaan junub dapat dihapus dengan beriktikaf di masjid.” Ulas Prof. Sofyan.
Baca Juga: kajian surat al-kahfi ayat 13-remaja-dan-penerus-bangsa
Ketiga, dosa-dosa di antara kamu dan para hamba. Dosa macam ini lebih rumit dan lebih berat. Hal ini dikarenakan dosa antarsesama manusia lebih banyak menuntut tindakan-tindakan tertentu untuk bisa meleburnya.
Dosa antarsesama umat manusia ini bisa jadi menyangkut harta benda, jiwa, kehormatan, kesucian, ataupun agama. Masing-masing memiliki cara tersendiri bila seorang yang menyalahinya ingin melebur dosa tersebut seperti mengembalikan hartanya, meminta maaf, menolongnya dalam kesulitan dan lain-lain.
“Sebanyak apapun dosa yang seseorang lakukan selagi ia melakukan salat niscaya dosanya akan terampuni. Hal ini seumpama seperti orang yang mandi lima kali maka kotoran dalam tubuhnya akan hilang. Namun, kriteria dosa yang Allah ampuni di sini adalah dosa-dosa kecil bukan termasuk dosa yang besar seperti menyekutukan Allah atau membunuh seorang muslim secara dzalim..” Pungkas Prof. Sofyan.
Baca Juga: Gotong Royong Serentak di Peringatan 75 Tahun Diplomasi Indonesia Mesir
Selanjutnya, Prof. Sofyan menyampaikan bahwa ada tiga amalan untuk seorang muslim agar dapat menghapus dosa dan mengangkat derajatnya. Tiga amalan ini ada dalam hadis riwayat Muslim nomor 251, yang artinya:
“Maukah kalian aku tunjukkan kepada suatu amal yang dapat menghapus kesalahan (dosa) dan meninggikan derajat?” Para sahabat menjawab,”Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, ”(Yaitu) menyempurnakan wudu dalam kondisi sulit, banyaknya langkah menuju masjid, menunggu salat setelah mendirikan salat. Itulah kebaikan (yang banyak).”
Pada akhir ceramahnya, Prof. Sofyan berdoa agar kita termasuk ke dalam golongan mukmin yang baik karena Allah Swt memelihara hatinya . Wallahualam. (*)
*) Tulisan ini telah dimuat di https://www.nongkrong.co/lifestyle/pr-4313981921/kajian-surat-hud-ayat-114-antara-baik-dan-buruk?page=2 pada tanggal 27 Juli 2022.

Tasyakuran HUT Ke-14 Ikatan Guru Indonesia: Mengukir Sejarah Pendidikan untuk Masa Depan
Bahasa Indonesia Ditetapkan sebagai Bahasa Resmi di Sidang Umum UNESCO
Manfaat Air Putih Bagi Tubuh Manusia
Wow, Berikut Ini Adalah 5 Selebritas Peraih Penghargaan Tokoh Muda Berpengaruh Indonesia 2023
Belajar Dari Unggahan Zaskia Adya Mecca, Berikut adalah Manfaat Kencur dan Bawang Merah untuk Kesehatan
Dalam Rangka Peringatan HGN tahun 2023, Komed Umumkan Pemenang LCMP Tingkat Nasional
Resep Rahasia Lele Penyet Sambal Kemangi, Bikin Seisi Dapur Harum Mewangi
2 thoughts on “Kajian Surat Hud ayat 114: Antara Baik dan Buruk”