Gus Yahya, dari Cerpenis Muda 1980-an Menjadi Ketua PBNU 2021 Sampai 2026

PANJI-PRATAMA.COM – Dilantiknya Yahya Cholil Staquf terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung, sangat disambut antusias warga Nahdiyin. Menariknya, Gus Yahya muda adalah seorang cerpenis yang handal.

Pria yang lahir di Rembang pada 16 Februari 1966 tersebut, dikenal sebagai seorang penulis cerita di tahun 1980-an. Karya-karya kakak dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas ini sering muncul di Majalah Kuntum. Sebuah majalah pelajar muslim bulanan terbesar di tanah air.

Menariknya, karya-karya Gus Yahya terkenal tidak hanya di kalangan Nahdiyin saja, melainkan juga warga Muhammadiyah.

Baca Juga: Materi cara menulis proposal kegiatan hut kabupaten

Hal itu karena majalah Kuntum merupakan majalah yang dikelola oleh Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM).

Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) sendiri adalah salah satu organisasi kepemudaan Muhammadiyah yang tersebar di seluruh sekolah Muhammadiyah di Indonesia dengan basis massa pelajar.

Salah satu cerpennya yang unik berjudul “Likin”. Cerpen itu muncul pertama kali di Majalah Kuntum edisi nomor 26 yang terbit pada September 1984. Cerpen “Likin” bercerita tentang seorang pemuda bernama Likin yang pandai bela diri kungfu.

Likin yang kurang populer di antara sesamanya, justru disukai oleh dua orang gadis bernama Rosa dan Sari. Meski demikian, Likin tetap tabah dan tahan godaan dari bujuk rayu kedua gadis tersebut.

Kepiawaian putra dari KH. Muhammad Cholil Bisri ini dalam mengolah diksi menjadi bukti bahwa Gus Yahya merupakan seorang pakar retorika.

Hal ini juga yang menjadikan dirinya sebagai Juru Bicara Presiden di era KH Abdurahman Wahid (Gus Dur).

Bahkan, lulusan Fisipol UGM ini diminta Presiden Joko Widodo sebagai salah satu anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) sejak tahun 2018.

Gus Yahya yang aktif menyuarakan komunikasi lintas agama, menjadikan dirinya mempunyai riwayat kinerja yang lebih global.

Pria yang pernah menimba ilmu di pesantren asuhan KH. Ali Maksum di Madrasah Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, tersebut diketahui memiliki jaringan internasional sejak tahun 2014.

Baca Juga: Membendung Bahasa Alay

Gus Yahya menjadi salah satu inisiator Bayt Ar-Rahmah Li ad-Da’wa Al-Islamiyah rahmatan Li Al-alamin, yaitu sebuah institut keagamaan di California, Amerika Serikat yang mengkaji agama Islam untuk perdamaian dan rahmat alam.

Lebih dari itu, Gus Yahya juga pernah dipercaya menjadi tenaga ahli perumus kebijakan pada Dewan Eksekutif Agama-Agama di Amerika Serikat-Indonesia.

Dewan lintas agama ini merupakan wujud perjanjian bilateral mengenai jalinan kemitraan strategis antara Amerika Serikat dan Indonesia, yang ditandatangani oleh Presiden Obama dan Presiden Jokowi pada Oktober 2015.

Selanjutnya, Gus Yahya pernah menghadiri diskusi di forum Centrist Democrat International (CD) dan European People’s Party (EPP).

Gus Yahya yang mewakili organisasi GP Ansor dan PKB menyuarakan isu-isu kemanusiaan pada dua jaringan politik kelas global tersebut.

Yang paling menarik adalah riwayat Gus Yahya yang menjadi pembicara internasional dalam forum American Jewish Committee (AJC) di Israel pada Juni 2018.

American Jewish Committee (AJC) mengundangnya untuk membahas resolusi konflik keagamaan, terutama mengenai konflik Israel-Palestina.

Baca Juga: Pria yang Kusebut Amit-Amit

Pada kesempatan itu, Gus Yahya melanjutkan upaya gurunya, Gus Dur, dalam mengonsep jalur-jalur penguatan pemahaman agama yang damai sebagai solusi perdamaian dunia.

Bahkan, Gus Yahya juga diapresiasi oleh banyak tokoh perdamaian dunia pada 15 Juli 2021. Hal itu terjadi ketika dirinya menjadi pembicara kunci dalam acara International Religious Freedom (IRF) Summit, di Washington, DC, Amerika Serikat.

Melalui topik “The Rising Tide of Religious Nationalism” Gus Yahya menyoal tentang dinamika bangkitnya nasionalisme religius yang merupakan metode pertahanan suatu kelompok agama mayoritas di negaranya ketika merasa terancam secara budaya.

Riwayat dan jejaring yang luas tersebut menjadi bukti bahwa KH Yahya Cholil Staquf dapat memimpin PBNU 2021-2026.

Hal ini sebagaimana contoh perdamaian dan pendekatan komunikatif yang telah dipraktikkan warga Nahdlatul Ulama (NU) selama ini.***

 

(*Tulisan ini pertama kali tayang di: https://bogor.urbanjabar.com/nasional/pr-2682269906/gus-yahya-dari-cerpenis-muda-1980-an-menjadi-ketua-pbnu-2021-sampai-2026?page=2 pada 27 Desember 2021)

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *