PANJI-PRATAMA.COM – Setiap ada undangan pernikahan handai taulan, satu pinta doa mereka adalah menjadi keluarga samawa. Keluarga samawa merupakan akronim dari keluarga sakinah, mawadah, dan warahmah.
Namun demikian, tidak sedikit berita yang mengkhawatirkan. Betapa banyak kejadian usia pernikahan yang tidak bertahan lama karena badai rumah tangga yang pelik. Oleh karena itu, tentunya doa harus pula didukung dengan upaya yang nyata.
Upaya mewujudkan keluarga samawa tentunya menjadi tanggung jawab kedua belah pihak. Hal itu karena menikah adalah menyatukan dua insan yang pada dasarnya berbeda. Maka, menikah bukanlah mencari persamaan, tetapi saling melengkapi dalam perbedaan.
Prof. DR. KH. Sofyan Sauri, M.Pd. memaparkan kajian tersebut berdasarkan QS Az Zariyat ayat 49. Dalam kuliah subuhnya, beliau mengambil tema: “Model Harmonisasi keluarga Rasulullah Saw. dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah, Mawadah, dan Warahmah”.
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah).” (QS Az Zariyat: 49)
Pada bagian awal, Prof. Sofyan mencoba menguraikan asal muasal ayat ini berdasarkan interpretasi para mufasir.
Dalam Tafsir Al-Baghawi dikatakan bahwa Allah menyebutkan nikmat-nikmat-Nya yang lain, yaitu bahwa semua makhluk yang berada di bumi diciptakan berpasang-pasangan. Ada langit dan bumi, timur dan barat, hitam dan putih, laki-laki dan perempuan, jantan dan betina, positif dan negatif, api dan air, semuanya berpasang-pasangan. Tujuannya adalah agar manusia mengetahui bahwa yang tidak berpasang-pasangan hanyalah Allah.
Baca Juga: Waspada Kehancuran Ekonomi Dunia tahun 2023, Kenali Sebab dan Akibatnya
Lebih lanjut, dalam Tafsir Al-Qurthubi dikatakan bahwa yang namanya berpasang-berpasangan memiliki arti saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lain. Seorang lelaki tidak akan sempurna kecuali dengan pasangannya, yaitu seorang perempuan. Adapun Allah tidak membutuhkan pasangan.
Kata kata zawj memiliki makna pasangan ketika disandingkan dengan kata khalaqnā yang berada sebelumnya. Maksud makna pasangan ialah segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan bukan hanya makhluk biologis seperti manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan mempunyai pasangan, laki-laki dan perempuan, jantan dan betina, tetapi juga makhluk-makhluk lain seperti makhluk kosmologis.
Tujuan dari berpasangan bagi manusia adalah untuk membentuk sebuah keluarga. Keluarga merupakan unit terkecil dari sebuah bangsa. Kebahagiaan sebuah keluarga merupakan miniatur dari kebahagiaan masyarakat dan bangsa.
“Dengan demikian, ungkapan tersebut mengilustrasikan kepada kita bahwa negara yang thayyibah akan terwujud apabila masyarakat sudah marhamah. Masyarakat marhamah akan terbentuk apabila keluarga sudah sakinah, dan keluarga yang sakinah akan tercipta bila dihiasi dengan akidah, mawaddah, dan warraḥmah.” Urai Prof. Sofyan kepada hadirin yang menyaksikan ceramahnya.
Lalu, bagaimana konsep keluarga samawa atau sakinah mawaddah warraḥmah itu?
Baca Juga: Lomba Cerita Pendek Berhadiah Belasan Juta Digelar Media Indonesia
Pertama, konsep sakinah (ketenangan) dapat dilihat tuntunannya melalui firman-Nya:
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada).” (QS Al Fath: 4)
Kedua adalah konsep mawaddah warraḥmah yang berkenaan dengan rasa kasih sayang kepada keluarga dan pasangan, dapat ditemukan dalam firman-Nya:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS Ar Rum: 21)
“Jadi, jika digeneralisasikan, sakinah, mawadah, dan warahmah itu adalah damai, penuh kasih sayang, dan banyak rezeki.” Ulas Prof. Sofyan.
Gambaran suami dan istri dalam keluarga samawa ada dalam firman Allah Swt. dalam QS At Tahrim ayat 6, yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At Tahrim: 6)
Baca Juga: Guide Dragon Quest XI untuk Side Quest 12 Skincare for the Fierce and Fabulous Guide
Kelima adalah mengerjakan amal saleh.
Hal ini sesuai dengan QS Al Baqarah ayat 277, yang artinya: “Sungguh, orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksanakan salat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS Al Baqarah: 277)
Imam Ali Ash-Shabuni dalam Shofwa at-Tafasir menjelaskan ayat tersebut, “Jagalah dirimu, dan peliharalah istri-istri dan anak-anakmu dari siksaan neraka yang panas dan pedih, dengan cara memerintahkan mereka meninggalkan maksiat, mengerjakan ketaatan, serta mendidik dan mengajari mereka.”
Berdasarkan penjelasan ini, keluarga Rasulullah Saw adalah model teladannya.
Hal ini telah dijabarkan dalam QS Al Ahzab ayat 21, yang artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS Al ahzab: 21)
“Untuk itu, rumah tangga akan berbahagia jika istri taat pada suami. Karena istri seperti inilah yang akan menyenangkan hati suami. Hal ini seperti hadis riwayat An Nasai nomor 3231.” Ulas Prof. Sofyan.
Adapun arti dari hadist yang berisi pesan terhadap istri-istri tersebut berbunyi:
“Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, menaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci.”
Adapula hadist yang berisi pesan terhadap para suami dalam hadist riwayat Abu Daud nomor 2142 yang berbunyi:
Baca Juga: Penonton Liga 1 Tidak Akan Lagi Mendengar Lagi Komentar Valentino Jebret
“Engkau memberinya makan sebagaimana engkau makan. Engkau memberinya pakaian sebagaimana engkau berpakaian atau engkau usahakan, dan engkau tidak memukul istrimu di wajahnya, dan engkau tidak menjelek-jelekkannya serta tidak memboikotnya (dalam rangka nasihat) selain di rumah.”
Dari dua hadist tersebut, dapat disimpulkan bahwa ada 5 cara membangun rumah tangga yang harmonis untuk menciptakan keluarga samawa, yaitu:
- Jadikan pasangan sebagai sahabat untuk menjalani kehidupan dengan turut mengedepankan kesetaraan.
- Saling mendukung untuk bersemangat dalam beribadah kepada Allah.
- Bertakwa kepada Allah dan menjaga hubungan kekeluargaan.
- Mendidik keluarga agar rajin bersyukur.
- Saling mendoakan pasangan dan keluarga.
Pada akhir ceramahnya, Prof. Sofyan berdoa agar keluarga kita termasuk ke dalam keluarga samawa yang diridoi oleh Allah Swt. Doa tersebut berkaitan dengan QS Al Furqan ayat 74, yang artinya:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
Wallahualam. (*)
(Telah dimuat di: https://www.nongkrong.co/lifestyle/pr-4315148828/kajian-surat-az-zariyat-ayat-49-rahasia-keluarga-samawa?page=3 pada 11 Oktober 2022)

Tasyakuran HUT Ke-14 Ikatan Guru Indonesia: Mengukir Sejarah Pendidikan untuk Masa Depan
Bahasa Indonesia Ditetapkan sebagai Bahasa Resmi di Sidang Umum UNESCO
Manfaat Air Putih Bagi Tubuh Manusia
Wow, Berikut Ini Adalah 5 Selebritas Peraih Penghargaan Tokoh Muda Berpengaruh Indonesia 2023
Belajar Dari Unggahan Zaskia Adya Mecca, Berikut adalah Manfaat Kencur dan Bawang Merah untuk Kesehatan
Dalam Rangka Peringatan HGN tahun 2023, Komed Umumkan Pemenang LCMP Tingkat Nasional
Resep Rahasia Lele Penyet Sambal Kemangi, Bikin Seisi Dapur Harum Mewangi