PANJI-PRATAMA.COM – Tujuan utama sebuah bisnis adalah untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan meminimalisasi kerugian sedapat mungkin.
Hal tersebut dilakukan untuk memburu kebutuhan duniawi. Manakala seorang penjual menawarkan produk atau jasa untuk memenuhi kebutuhan para pembeli.
Namun demikian, apa jadinya kalau kita memburu bisnis dengan Allah Swt.? Jawaban yang dijanjikan adalah keuntungan dunia dan akhirat.
Prof. DR. KH. Sofyan Sauri, M.Pd., memaparkan kajian tersebut berdasarkan QS As Syura ayat 20. Dalam kuliah subuhnya, beliau mengambil tema: “Memburu Bisnis dengan Allah untuk Meraih Keuntungan Dunia dan Akhirat”.
“Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.” (QS As Syura: 20)
Baca Juga: Penerbit Basabasi Mengadakan Sayembara Novela dengan Tema Bencana
Pada bagian awal, Prof. Sofyan mencoba menguraikan asal-muasal ayat ini berdasarkan interpretasi para mufasir. Dalam Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghaib dijelaskan bahwa QS Asyura ayat 20 menjelaskan janji Allah Swt. dalam mengutamakan orang yang menginginkan akhirat atas orang yang menginginkan dunia.
Lebih lanjut, dalam kitab Tafsir Al-Munir dijelaskan bahwa Allah Swt. mendahulukan penyebutan orang yang menginginkan akhirat atas penyebutan yang menginginkan dunia. Allah Swt juga menjelaskan bahwa orang yang menginginkan akhirat, ia akan ditambah melebihi dari yang ia inginkan. Adapun yang menginginkan dunia, ia hanya diberi sebagian keinginannya dari dunia dan tidak mendapatkan sedikit pun dari bagian akhirat.
Akhirat tidaklah tunai, sedangkan dunia tunai. Sesuatu yang tidak tunai menurut pandangan manusia bernilai lebih rendah daripada yang tunai, karena mereka mengatakan sesuatu yang tunai lebih baik daripada yang tidak tunai. Oleh karena itu, di sini Allah menjelaskan bahwa dalam kaitannya dengan urusan akhirat dan dunia, yang berlaku adalah sebaliknya. Sebab yang pertama (akhirat) pasti bertambah dan berkembang, sedangkan yang kedua berkurang.
Ayat ini menunjukkan bahwa kemanfaatan akhirat dan dunia membutuhkan penanaman atau keinginan, usaha, dan jerih payah. Mendayagunakan tenaga untuk perkembangan dan kekal tentu lebih utama daripada ke arah berkurang, berakhir, dan sirna.
Baca Juga: Berikut Sinopsis Lima Pahlawan Timnas Indonesia yang Dibuat Filmnya oleh FIFA
“Dengan demikian, berbisnis dengan Allah adalah bisnis yang tak akan pernah merugi,” urai Prof. Sofyan kepada hadirin yang menyaksikan ceramahnya.
Maka, yang ditawarkan Allah dalam Alquran adalah kerangka kesepakatan bisnis, berupa pinjam-meminjam dengan bunga pinjaman yang berlipat ganda serta jual beli dengan nilai tukar yang sangat tidak sebanding; ibarat meminjam seekor nyamuk lalu mengembalikannya dalam bentuk seekor kuda.
“Dengan demikian, setiap orang yang sudah balig (mencapai usia kesempurnaan akal) adalah pebisnis yang bertransaksi dengan Allah.” Jelasnya.
Yang harus diingat adalah semua modal bisnis manusia tersebut (kehidupannya, kesempurnaan tubuhnya, kesempurnaan akalnya, kesehatannya, kepandaiannya, perasaannya, intuisinya, dan lain-lain) berasal dari Allah. Dia tinggal memutar roda usahanya dengan modal tersebut.
Hal ini sesuai dengan makna QS At Taubah ayat 111 yang berbunyi:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) Janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS At Taubah: 111)
Baca Juga: Hak Guru Mendapatkan Tunjangan Profesi Hilang dari RUU Sisdiknas, Begini Respon Pemerintah
“Jadi, secara umum, ada empat hal bisnis dengan Allah Swt. Yang tidak akan merugi.” Ulas Prof. Sofyan.
Empat bisnis tersebut adalah:
- Menginfakkan Harta di Jalan Allah.
Hal ini sesuai dengan QS Al Baqarah ayat 261, yang artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”;
- Bekerja karena Allah dan mencari ridha-Nya.
Hal ini sesuai dengan QS At Taubah ayat 105, yang artinya: “Dan katakanlah, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS At Taubah: 105);
- Mencari rezeki yang halal dan baik.
Hal ini sesuai dengan QS Al Baqarah ayat 172, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS Al Baqarah: 172);
- Berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa.
Hal ini sesuai dengan QS Shaff ayat 10-11, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui..” (QS Shaff: 10-11).
Pada akhir ceramahnya, Prof. Sofyan berdoa agar kita termasuk ke dalam orang-orang yang yakin terhadap keuntungan akhirat. Doa tersebut berkaitan dengan HR Tarmidzi No. 3502, yang artinya:
“Ya Allah, jadikanlah untuk kami bagian dari rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi kami dari perbuatan maksiat (kepada-Mu). Jadikanlah kami bagian dari ketaatan kepadamu yang dapat menyampaikan kami kepada surgamu. Jadikanlah kami bagian dari rasa keyakinan yang dengannya Engkau meringankan kami dalam menghadapi musibah dunia. Ya Allah, berilah kenikmatan kepada kami dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami, jadikanlah ia tetap ada pada kami, jadikanlah pembalasan kami kepada orang yang menzalimi kami, berilah kami kemenangan atas orang yang memusuhi kami, janganlah Engkau jadikan musibah (yang menimpa) kami mempengaruhi agama kami, janganlah Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar dan puncak ilmu kami, dan janganlah Engkau jadikan orang yang tidak menyayangi kami (orang kafir dan orang zhalim) sebagai orang yang menguasai kami.”(*)
*) Tulisan ini telah dimuat di https://www.nongkrong.co/lifestyle/pr-4314342323/kajian-surat-as-syura-ayat-20-memburu-bisnis-dengan-allah?page=3 pada tanggal 1 September 2022.

Tasyakuran HUT Ke-14 Ikatan Guru Indonesia: Mengukir Sejarah Pendidikan untuk Masa Depan
Bahasa Indonesia Ditetapkan sebagai Bahasa Resmi di Sidang Umum UNESCO
Manfaat Air Putih Bagi Tubuh Manusia
Wow, Berikut Ini Adalah 5 Selebritas Peraih Penghargaan Tokoh Muda Berpengaruh Indonesia 2023
Belajar Dari Unggahan Zaskia Adya Mecca, Berikut adalah Manfaat Kencur dan Bawang Merah untuk Kesehatan
Dalam Rangka Peringatan HGN tahun 2023, Komed Umumkan Pemenang LCMP Tingkat Nasional
Resep Rahasia Lele Penyet Sambal Kemangi, Bikin Seisi Dapur Harum Mewangi
1 thought on “Kajian Surat As Syura ayat 20: Memburu Bisnis dengan Allah”