PANJI-PRATAMA.COM – Banyak umat Islam yang menunjukkan kegairahannya ketika memasuki bulan Muharam atau Tahun Baru Islam. Namun, hanya sedikit umat Islam yang memahami apa sebetulnya makna girah Muharam tersebut.
Prof. DR. KH. Sofyan Sauri, M.Pd. memaparkan kajian tersebut berdasarkan QS Al Baqarah ayat 218. Dalam kuliah subuhnya, beliau mengambil tema: “Menggali Makna Girah Muharam menuju Iṣlāḥ al-Ḥayāh”.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Al Baqarah: 218)
Pada bagian awal, Prof. Sofyan mencoba menguraikan asal muasal ayat ini berdasarkan interpretasi para mufasir. Dalam Tafsir, Ibnu Abbas menjelaskan bahwa QS Al Baqarah ayat 218 berhubungan dengan ‘Abdullah bin Jahsy dan teman-temannya.
Abdullah ibnu Jahsy dan kawan-kawannya merasa lega dari apa yang selama itu mengungkungnya berkat adanya keterangan dari Alquran yang baru diturunkan. Mereka pun merasa kehausan akan pahala.
Lalu, mereka berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau menginginkan agar kami maju berperang lagi karena kami menginginkan pahala orang-orang yang berjihad.”
Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al Baqarah: 218)”.
Akhirnya, Allah Swt. memenuhi keinginan mereka dengan pemenuhan yang memuaskan.
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi dalam tafsir An-Nafahat Al-Makkiyah mengatakan bahwa Allah Swt. mengabarkan bahwa mereka yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan yang meninggalkan negeri mereka untuk berhijrah dan berjihad di jalan Allah adalah orang-orang yang berharap rahmat Allah, yaitu dimasukkan ke dalam surga dan Allah Mahabesar ampunannya.
Baca Juga: Kasus Rebound Positif Covid-19 Dialami Joe Biden
“Lalu, apa arti dari kata girah itu?” tanya Prof. Sofyan kepada hadirin yang menyaksikan ceramahnya.
Kata girah (غِيْرَة), secara terminologis, adalah semangat yang menggelora dalam setiap jiwa manusia.
Ada pula yang memaknai girah sebagai unsur jiwa untuk menjaga kehidupan dan kesalehan jiwa. Namun secara umum, kata girah yang berasal dari bahasa Arab memiliki makna “semangat”.
Hal itu berarti sekaligus juga berarti semangat untuk membela agama.
Selanjutnya, kata Iṣlāḥ merupakan masdar yang berarti memperbaiki, memperbagus, dan mendamaikan. Dalam al-Mu’jam al-Wajiz bahwa Iṣlāḥ mengandung dua makna, pertama bermanfaat, kedua terlindungi dari kerusakan.
Secara istilah, Iṣlāḥ adalah upaya untuk menghilangkan terjadinya kerusakan dan perpecahan antara manusia dan melakukan perbaikan dalam kehidupan manusia sehingga tercipta kondisi yang aman, damai, dan sejahtera dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, dalam terminologi Islam, secara umum Iṣlāḥ dapat diartikan sebagai “suatu aktivitas yang ingin membawa perubahan dari keadaan yang buruk menjadi keadaan yang baik”.
Terakhir, ada kata Al-Ḥayāh (الحياة) yang artinya “kehidupan”. Namun, apabila dilihat dalam kitab al-Mufradat fi Gharib al-Quran, diuraikan bahwa makna al-Ḥayāh dapat menunjukkan potensi untuk tumbuh atau kemampuan untuk hidup. Hal ini berlaku untuk hewan maupun tumbuhan.
Al-Ḥayāh menunjukkan kehidupan yang abadi di akhirat, yang demikian itu dapat dicapai dengan kehidupan duniawi yang disertai dengan ilmu dan amal (takwa).
“Jadi, secara umum, Iṣlāḥ al-Ḥayah tercuraikan menjadi empat aspek.” Ulas Prof. Sofyan.
Baca Juga: Manchester City vs Liverpool: Gol Debut Nunez Sukses Genapkan Kemenangan The Reds
Empat aspek tersebut adalah:
- Iṣlāḥ al-Aqidah (Perbaikan Aqidah)
- Iṣlāḥ al-Ibadah (Perbaikan Ibadah)
- Iṣlāḥ al-Akhlak (Perbaikan Akhlak)
- Iṣlāḥ al-Muamalah (Perbaikan Muamalah)
Tahun baru Hijriyah berawal dari bulan Muharam menjadi momen yang baik untuk bermuhasabah dan mempersiapkan diri hijrah ke arah yang lebih baik untuk mencapai target dunia maupun akhirat.
Maka, Girah Muharam artinya semangat yang menggelora menghidupkan Muharam yang lebih baik sebagai momentum tahun baru hijriyah mengandung semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa optimisme yang tinggi dengan semangat berhijrah dari hal yang baik ke yang lebih baik lagi sebagai bekal mengarungi tahun baru Islam dan menjadi bekal di bulan-bulan berikutnya.
Ada beberapa langkah untuk mempersiapkan diri dalam menggali makna Girah Muharam menuju Iṣlāḥ al-Ḥayāh.
- Mencintai Allah Swt. dan mengikuti jejak perjuangan Nabi Muhammad Saw. Hal ini sesuai dengan QS. Ali Imran ayat 31, yang artinya: “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Jika kalian mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi/mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Ali Imran: 31);
- Menjadi seorang pemaaf dan mengerjakan yang makruf. Hal ini sesuai dengan QS. Al A’raf ayat 199, yang artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma´ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al A’raf: 199);
- Hal ini sesuai dengan QS. Al A’raf ayat 26, yang artinya: “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al A’raf: 26);
- Bersegera mencari ampunan Allah Swt. Hal ini sesuai dengan QS. Ali Imran ayat 133, yang artinya: “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133); dan
- Hal ini sesuai dengan HR. Ibnu Majah, yang artinya: “Setiap anak keturunan Adam itu berbuat dosa. Dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah orang-orang yang mau bertaubat.”
Pada akhir ceramahnya, Prof. Sofyan berdoa agar kita termasuk ke dalam golongan mukmin yang dapat menggali makna terbaik dari rahasia-rahasia Allah Swt. Doa tersebut berkaitan dengan HR. Bukhari Muslim, yang artinya:
“Ya Allah, ampunilah kesalahan dan kebodohanku, kelewatanbatasku dalam sebuah hal, dan dosaku yang mana Kau lebih tahu dariku. Tuhanku, ampunilah dosaku dalam serius dan gurauanku, kekeliruan dan kesengajaanku. Apa pun itu semua berasal dariku. Tuhanku, ampunilah dosaku yang terdahulu dan terkemudian, dosa yang kusembunyikan dan kunyatakan, dan dosa yang mana Kau lebih tahu dariku. Kau maha terdahulu. Kau maha terkemudian. Kau maha kuasa ata segala sesuatu.”
Wallahualam.(*)
*) Tulisan ini telah dimuat di https://www.nongkrong.co/lifestyle/pr-4314026953/kajian-surat-al-baqarah-ayat-218-menggali-makna-girah-muharam?page=3 pada tanggal 1 Agustus 2022.

Tasyakuran HUT Ke-14 Ikatan Guru Indonesia: Mengukir Sejarah Pendidikan untuk Masa Depan
Bahasa Indonesia Ditetapkan sebagai Bahasa Resmi di Sidang Umum UNESCO
Manfaat Air Putih Bagi Tubuh Manusia
Wow, Berikut Ini Adalah 5 Selebritas Peraih Penghargaan Tokoh Muda Berpengaruh Indonesia 2023
Belajar Dari Unggahan Zaskia Adya Mecca, Berikut adalah Manfaat Kencur dan Bawang Merah untuk Kesehatan
Dalam Rangka Peringatan HGN tahun 2023, Komed Umumkan Pemenang LCMP Tingkat Nasional
Resep Rahasia Lele Penyet Sambal Kemangi, Bikin Seisi Dapur Harum Mewangi