PANJI-PRATAMA.COM – Kematian bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, kematian adalah awal dari segalanya.
Setiap makhluk pasti akan merasakan kematian. Pun manusia. Tidak ada satu manusia pun yang dapat menghindari sakaratul maut.
Prof. DR. KH. Sofyan Sauri, M.Pd. memaparkan kajian tersebut berdasarkan QS Al Mulk ayat 2. Dalam kuliah subuhnya, beliau mengambil tema: “Menyelami Makna Kematian sebagai Ujian dari Allah Swt”.
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS Al Mulk: 2)
Pada bagian awal, Prof. Sofyan Sauri mencoba menguraikan asal muasal QS Al Mulk ayat 2 ini berdasarkan interpretasi para mufasir.
Dalam Kitab Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-Adzim wa al-Sab’i al-Matsani dijelaskan bahwa kata “liyabluwakum” dalam QS Al Mulk ayat 2 tersebut bermakna bahwa Allah akan melakukan sesuatu untuk menguji kalian sehingga ia tercapai tujuan untuk mengetahui ayyukum ahsanu ‘amalan.
Makna ‘amalan di QS Al Mulk ayat 2 ini ialah perkara yang mencakup amal hati dan anggota badan.
Lebih lanjut, dalam kitab tersebut, sang penulis, yaitu Al-Alusi, menjelaskan bahwa kata ayyukum ahsanu ‘amalan (yang terbaik amalnya) adalah yang paling banyak mengingat kematian.
Dalam penutupan ayat kedua dari Surah Al Mulk tersebut, terkandung makna tarhib (ancaman) dan targhib (motivasi).
Maksudnya, Allah melakukan segala sesuatu yang Dia inginkan dan tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Allah akan menyiksa hamba-Nya jika mereka durhaka (enggan taat) kepada-Nya.
Baca Juga: Kajian Surat Al Ahzab ayat 53: Adab Bertamu
Namun, Allah Maha menerima taubat jika hamba yang terjerumus dalam maksiat dan dosa bertaubat dengan kesungguhan kepada-Nya.
Maka, ada dua kata kunci yang dapat menjadi ujian bagi manusia berdasarkan QS Al Mulk ayat 2 tersebut, yaitu: keburukan dan kebaikan.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam QS Al Anbiya’ ayat 35 yang berbunyi:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS Al Anbiya’: 35)
“Lalu, kenapa Allah menyebutkan kematian lebih dahulu baru kehidupan?” tanya Prof. Sofyan kepada hadirin yang menyaksikan ceramahnya.
Setidak-tidaknya ada empat hal yang menjadi alasan dari pertanyaan mengenai kematian tersebut.
Pertama, kematian itu akan kita temui di dunia, sedangkan kehidupan yang hakiki adalah di akhirat.
Kedua adalah karena segala sesuatu diawali dengan tidak adanya kehidupan terlebih dahulu, seperti nutfah, tanah, dan semacamnya. Baru setelah itu diberi kehidupan.
Ketiga adalah penyebutan kematian lebih dulu supaya mendorong orang untuk segera beramal.
Keempat adalah kematian itu masih berupa nuthfah (air mani), mudh-goh (sekerat daging), dan ‘alaqoh (segumpal darah), sedangkan kehidupan jika sudah tercipta wujud manusia dan ditiupkan ruh di dalamnya.
“Nah, untuk itu ada beberapa tips bagi kita agar dapat menghadapi ujian kematian. Hal ini terkait dengan cara manusia dalam melewati dunia yang sementara untuk menuju kehidupan akhirat yang kekal.” Jelas Prof. Sofyan Sauri.
Baca Juga: Kajian Surat Al Ahzab ayat 70-71: Bahaya Berdusta
Tips-tips tersebut di antaranya adalah:
1. Dunia dijadikan hanya sebagai tempat mengembara/berjuang di jalan Allah
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW seperti yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, yaitu: “Dari Ibnu ‘Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: “Jadilah di dunia seperti kamu mengembara atau berjuang di jalan Allah dan anggaplah dirimu (termasuk) dari ahli kubur.”;
2. Tidak berbuat kerusakan di muka bumi dan tidak menyombongkan diri
Hal ini sesuai dengan QS Al Qashash ayat 83, yang artinya: “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”;
3. Mengerjakan Amal Saleh
Hal ini sesuai dengan QS Al Fajr ayat 24, yang artinya: “Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.”;
4. Berpegang teguh pada Agama Islam
Hal ini sesuai dengan QS Ali Imran ayat 102, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”; dan
5. Menyiapkan amalan yang terus mengalir pahalanya
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim, yaitu: “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang saleh.” (HR. Muslim no. 1631).
Pada akhir ceramahnya, Prof. Sofyan berdoa agar kita menjadi manusia-manusia yang dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian berdasarkan QS At Thaha ayat 25-28, yang artinya:
“Berkata Musa, “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”
Wallahualam. (*)
(Telah dimuat di: https://www.nongkrong.co/lifestyle/pr-4316493773/kajian-surat-al-mulk-ayat-2-menyelami-makna-kematian?page=3 pada tanggal 9 Januari 2023)

Beragam Aksi Guru Dari Pusat Hingga Daerah di HGN 2022
Kajian Surat Al Ahzab ayat 53: Adab Bertamu
Xi Jinping Terpilih Ketiga Kalinya
Rekomendasi Hero Marvel SNAP di Bulan Januari 2023