PANJI-PRATAMA.COM – Manusia melewati beberapa fase dalam hidup. Mulai dari dilahirkan, belajar berjalan, bersekolah, bekerja, menikah, dan meninggal dunia.
Dari beberapa fase tersebut, manusia senantiasa berkembang dan belajar dalam hidup. Perkembangan ini berkaitan dengan iman, ilmu, dan amal. Ketiga hal tersebut harus dipahami demi mencapai keseimbangan dalam hidup.
Prof. DR. KH. Sofyan Sauri, M.Pd. memaparkan kajian tersebut berdasarkan QS An Nissa ayat 136. Dalam kuliah subuhnya, beliau mengambil tema: “Integrasi-Interkoneksi Iman, Ilmu, dan Amal dalam Mewujudkan Keseimbangan Hidup”.
“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh..” (QS An Nissa: 136)
Pada bagian awal, Prof. Sofyan mencoba menguraikan asal muasal ayat ini berdasarkan interpretasi para mufasir. Dalam Tafsir Al-Azhar dijelaskan bahwa QS An Nissa ayat 136 menegaskan bahwa orang yang mengaku beriman itu seyogianya memperdalam iman dan memupuknya, sehingga iman itu subur dan bertambah besar; lalu beranting berdahan, berdaun berbuah..
Lebih lanjut, dalam Tafsir Munir dijelaskan bahwa Allah mengancam orang yang tetap kafir setelah adanya perintah untuk beriman. Barang siapa yang kufur kepada Allah Swt., atau kepada malaikat-Nya, atau kepada sebagian kitab-Nya, atau kepada sebagian rasul-Nya, atau kepada hari akhir, sungguh ia benar-benar telah sesat, yakni keluar dari rel petunjuk dan kebenaran, serta jauh dari apa yang dikehendaki.
Berdasarkan kedua uraian tersebut, ayat ini berkaitan dengan integrasi dan interkoneksi manusia dalam berbagai lini hidupnya. Integrasi dapat dimaknai sebagai proses memadukan nilai-nilai tertentu dengan sebuah konsep lain sehingga menjadi suatu kesatuan yang koheren dan tidak bisa dipisahkan, atau proses pembauran hingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan bulat. Selanjutnya, interkoneksi berkaitan dengan mempertemukan atau menghubungkan dua hal atau lebih.
Yang diintegrasikan dan diinterkoneksikan dalam QS An Nissa ayat 136 ini adalah iman, ilmu, dan amal. Menurut Abu Bakar Jabir al-Jazairi, iman adalah membenarkan dan meyakini Allah sebagai Tuhan untuk disembah dan iman merupakan jalan yang mempermudah akal manusia dengan cara menerima ketetapan Allah, baik yang terlihat atau tidak,yang ditetapkan atau diubah. Dengan iman kita dituntut untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan melaksanakan perintah-Nya seperti para kekasih-Nya (hamba yang saleh).
Baca Juga: Kreativitas Musik Tradisional di FLS3N 2026 Dikmen, Ajang Pelestarian Budaya di Kalangan Pelajar
“Dalam Alquran, Allah menjanjikan berbagai balasan berupa pahala dan kebaikan bagi umat Islam yang beriman dan beramal saleh. Sebab, itulah yang membuat amal saleh bisa dikatakan sebagai pelengkap kesempurnaan iman seseorang.” urai Prof. Sofyan kepada hadirin yang menyaksikan ceramahnya.
Maka, amal saleh adalah perbuatan yang sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah atau menunaikan kewajiban agama.
“Koneksi antara ilmu, amal dengan iman tidak dapat terpisahkan, karena ketiganya telah menjadi bagian dari hukum ilahi yang telah diberikan oleh Allah, zat yang Maha Kuasa, dan Maha Mengetahui.” Jelasnya.
Yang harus diingat adalah bahwa integrasi iman, amal, dan ilmu merupakan suatu keharusan dikarenakan ketiganya merupakan objek yang saling mengisi. Hal ini dikarenakan dalam firman Allah melalui Surah Al-Mujadalah ayat 11 yang memerintahkan kepada orang yang beriman untuk setinggi-tingginya dalam menuntut ilmu dengan memberikan jaminan bahwa Allah akan menaikkan derajat orang tersebut setinggi-tingginya dan Allah maha teliti apa yang dilakukan.
Hal ini sesuai dengan makna QS Al Mujadalah ayat 11 yang berbunyi:
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (Al Mujadalah: 11)
Dengan kata lain, tatkala kita memberdayakan potensi iman dan ilmu, akan tercipta dua hal. Pertama, sumber daya manusia yang andal. Kedua, pribadi yang memiliki kecerdasan intelektual, emosional, serta spiritual.
Baca Juga: Tiga Kerajaan Islam Dunia di Abad Pertengahan dalam Games Tema Empires
Sebaliknya, jika ilmu tanpa didasari agama, pengetahuan tanpa ditopang ajaran Tuhan, hanya akan melahirkan model manusia jahiliyah, akidahnya lemah, akhlaknya tercela, dan kerjaannya hanya bikin rusak negara dan bangsa.
Lalu, apa yang harus dilakukan setelah memiliki ilmu?
“Jadi, ilmu yang telah kita raih, baik di bangku sekolah, madrasah, pesantren atau perguruan tinggi, harus kita amalkan, aktualisasikan, dan pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan melalui kerja dan karya nyata.” Ulas Prof. Sofyan.
Ada empat hal yang mesti diperhitungkan untuk membuat ilmu menjadi sempurna dan seimbang dengan iman dan amal seseorang, terutama untuk kehidupan dunia dan akhirat:
1. Ilmu haruslah membimbing iman dan amal
Hal ini sesuai dengan QS Al Hajj ayat 54, yang artinya: “Dan orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya alquran inilah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan tunduk hati, sesungguhnya Allah SWT memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (QS Al Hajj: 54);
2. Mempergunakan dan memanfaatkan ilmu
Hal ini sesuai dengan QS Al Mulk ayat 3, yang artinya: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS Al Mulk: 3);
3. Ikhlas dan mencari rida-Nya
Hal ini sesuai dengan QS Al Bayyinah ayat 5, yang artinya: “Mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan segala ibadah hanya untuk-Nya (Ikhlas), dalam (menjalankan) agama yang lurus, ….” (QS Al Bayyinah: 5); dan
4. Menjadikan iman, ilmu, dan amal sebagai manifestasi takwa
Hal ini sesuai dengan QS At Thalaq ayat 2-3, yang artinya: “….Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…..” (QS At Thalaq: 2-3).
Pada akhir ceramahnya, Prof. Sofyan berdoa agar kita menjadi umat Islam yang diberikan petunjuk dan hidayah atas ilmu-ilmu kita berdasarkan HR Muslim No. 771, yang artinya:
Baca Juga: Kajian Surat As Syura ayat 20: Memburu Bisnis dengan Allah
“Ya Allah, tunjukkanlah aku kepada akhlak yang baik, tidak ada yang dapat menunjukkan kepadanya kecuali Engkau. Dan palingkanlah dariku kejelekan akhlak, tidak ada yang dapat memalingkannya dariku kecuali Engkau.”
Wallahualam. (*)
*) Tulisan ini telah dimuat di https://www.nongkrong.co/pendidikan/pr-4314542591/kajian-surat-an-nissa-ayat-136-mewujudkan-keseimbangan-hidup pada tanggal 6 September 2022.

Bahasa Indonesia Ditetapkan sebagai Bahasa Resmi di Sidang Umum UNESCO
Ikatan Guru Indonesia (IGI) Berbicara Pendidikan di EduTech Asia 2023, Singapura
Manfaat Air Putih Bagi Tubuh Manusia
Wow, Berikut Ini Adalah 5 Selebritas Peraih Penghargaan Tokoh Muda Berpengaruh Indonesia 2023
Belajar Dari Unggahan Zaskia Adya Mecca, Berikut adalah Manfaat Kencur dan Bawang Merah untuk Kesehatan
APKRES 2023: Meriahnya Kolaborasi Budaya dan Prestasi di Sekolah Indonesia Kota Kinabalu