PANJI-PRATAMA.COM – Minggu ini, Prof. Dr. KH. Sofyan Sauri, M.Pd. mendedah Alquran Surat Al Hajj ayat 37. Dalam kajiannya, Prof. Sofyan menyebut bahwa umat Islam harus dapat merefleksi nilai-nilai luhur dari peristiwa besar Iduladha.
Adapun QS Al Hajj ayat 37 berbunyi:
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al Hajj: 37)
Pada bagian awal, Prof. Sofyan mencoba menceritakan asbabunnuzul dari ayat ini. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Juraij berkata bahwa orang-orang Arab pada masa Jahiliah gemar membalur atau melumuri Baitullah dengan daging unta dan darahnya.
Baca Juga: Kembali Muncul Virus Mematikan di Ghana, Kenali dan Waspada
Hal tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Wajiz yang menandaskan bahwa daging-daging dan darah hewan-hewan kurban itu sekali-kali tidak dapat mencapai dan terangkat di sisi Allah, tetapi ketakwaan kamulah yang akan sampai kepada Allah Swt. Dengan demikian, Allah Swt. akan memberi balasan atas ketakwaan manusia bukan dari pemberian manusia.
Ada pula interpretasi selanjutnya dalam kitab Tafsir Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur’an. Di dalamnya, dijelaskan bahwa pada ayat ini terdapat dorongan untuk berbuat ikhlas, baik dalam ibadah kurban maupun dalam ibadah lainnya, bukan untuk berbangga, riya atau karena kebiasaan. Semua ibadah yang tidak disertai keikhlasan seperti jasad tanpa ruh.
Baca Juga: TKA Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut Kompetensi Evaluasi dan Apresiasi
“Jadi, kandungan ayat ini adalah Allah menegaskan tujuan berkurban, ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari keridaan-Nya. Dekat kepada Allah Swt. tidak akan diperoleh dari daging-daging binatang yang disembelih dan tidak pula dari darahnya yang telah ditumpahkan, tetapi semuanya itu akan diperoleh bila kurban itu dilakukan dengan niat yang ikhlas.” Tegas Prof. Sofyan.
Selanjutnya, Prof. Sofyan menyampaikan bahwa berdasarkan ayat tersebut, umat Islam dapat menyarikan empat pesan. Keempat pesan tersebut penting diketahui agar umat Islam senantiasa belajar dan bertadabur.
Pesan pertama adalah ibadah yang paling utama pada hari raya Idul Adha adalah menyembelih hewan kurban karena Allah;
Pesan kedua adalah ibadah kurban yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha sampai hari tasyrik, tiada lain bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah;
Baca Juga: Catat 7 Karakter Ini untuk Membangun Novel Thriller Jadi Best Seller
Pesan ketiga adalah kurban juga berarti menghilangkan sikap egoisme, nafsu serakah, dan sifat individual dalam diri seorang muslim; dan
Pesan keempat adalah dengan berkurban, diharapkan seseorang akan memaknai hidupnya untuk mencapai rida Allah semata.
Selanjutnya, Prof. Sofyan memberikan pertanyaan kepada hadirin yang hadir di kajian subuhnya berupa, “apa ari merefleksi nilai-nilai Iduladha?” Tentu saja, jawabannya adalah melihat kembali dan merenungkan berbagai hal yang terjadi pada kejadian besar yang mengandung pesan moral dan nilai-nilai penting dari hari raya besar Islam yaitu Idul Adha.
Hal ini sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS Al Kautsar ayat 1-3, yang berbunyi: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus”.
Selanjutnya, Prof. Sofyan mencoba merumuskan kajiannya dengan sebuah pernyataan bahwa berakhlak mulia atau akhlak karimah adalah amalan yang paling banyak membuat orang masuk surga. Hal ini sesuai dengan Hadist Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Maajah, dan Al-Hakim, yaitu ‘Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia’.
Selain itu, Rasulullah Swt. berpesan kepada umatnya bahwa berbahagialah mereka yang mampu beribadah kurban karena dapat menjadi anugerah istimewa di mana kebaikan ini kelak menjadi saksi di hari kiamat.
Hal itu diriwayatkan kembali oleh Tirmidzi, yaitu:
Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai oleh Allah daripada mengalirkan darah dari hewan kurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan kurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (rida) Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.”
Baca Juga: TKA Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut 2025 Kompetensi Pemahaman Tekstual
Dengan demikian, Prof. Sofyan mengingatkan kembali bahwa merefleksi nilai-nilai luhur dari Hari Raya Besar Iduladha, berdasarkan Surat Al Hajj ayat 37, dibagi menjadi beberapa nilai:
- Nilai ketulusan dan loyalitas, yaitu ibadah ritual kurban bukan sekadar memiliki makna bagaimana manusia mendekatkan diri kepada Allah Swt., tetapi juga mendekatkan diri kepada sesama manusia, terutama mereka yang tergolong sebagai kaum duafa dan marginal.
- Nilai kedermawanan, yaitu ssensi berkurban bukanlah sebatas menyembelih hewan kurban semata, tetapi refleksi dan nilai kedermawanan dan empati terhadap sesama.
- Nilai hidayah, yaitu disyariatkannya Iduladha dan keutamaannya merupakan di antara refleksi nilai hidayah yang diperoleh orang-orang yang beriman. Tingkatan hidayah disebutkan di dalam kitab Syifa’ Al ‘Alil Fi Masail Al Qadha’ wal Qadar wal Hikmah wa at Ta’lil, yang disusun oleh Ibnul Qayyim Al Jauziyah.
- Nilai tawakal dan sabar, yaitu menjadi pengingat tentang kaum sebelum kita sekarang. Sebagaimana QS Al Anbiya ayat 85 yang berbunyi, “Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar.”
Baca Juga: CERPEN: DUTA CINTAKU DI WAIGEO
Pada akhir ceramahnya, Prof. Sofyan mengajak agar kita berupaya termasuk ke dalam golongan orang yang mudah bersyukur kepada Allah Swt. Oleh karena itu, dirinya menutup kajian dengan doa yang dikutip dari Hadist Riwayat Muslim No. 2721 yang artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian (dijauhkan dari hal-hal yang tidak baik), dan kecukupan.”(*)
*) Tulisan ini telah dimuat di https://www.nongkrong.co/lifestyle/pr-4313922497/kajian-surat-al-hajj-ayat-37-merefleksi-iduladha?page=2 pada tanggal 19 Juli 2022.

Waspada Ancaman Virus B yang Menular pada Manusia
Biden Mengultimatum Netanyahu Soal Perlindungan di Gaza
Gempa Bumi Dahsyat Melanda Taiwan: Korban Meninggal Diprediksi Terus Bertambah
Kemendikbudristek Menjamin Bahwa Pramuka Tetap Merupakan Ekstrakurikuler Wajib yang Harus Disediakan Sekolah
Gus Yahya Melantik Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sukabumi Masa Khidmat 2024 – 2029
4 thoughts on “Kajian Surat Al Hajj ayat 37: Merefleksi Iduladha”