PANJI-PRATAMA.COM – Aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg, ditangkap oleh pasukan angkatan laut Israel saat berusaha mengirim bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza, Palestina.
Peristiwa ini terjadi pada Senin (9/6) waktu setempat, ketika Greta bersama sejumlah aktivis internasional berada di atas kapal kemanusiaan yang hendak menuju pelabuhan Gaza.
Greta dan belasan aktivis lain tergabung dalam misi kemanusiaan yang diorganisasi oleh Freedom Flotilla Coalition (FFC), sebuah kelompok solidaritas internasional.
Mereka menumpangi kapal bernama Madleen, yang sebelumnya telah dijadwalkan membawa berbagai jenis bantuan untuk warga Gaza yang terdampak konflik.
Baca Juga: FEATURE: Bersama Lilmaghrib, Sukabumi Dikenal sebagai Daerah yang Someah dan Merenah
Dalam keterangan resminya, FFC menyatakan bahwa kapal Madleen dicegat oleh angkatan laut Israel ketika masih berlayar di perairan internasional. Intersepsi ini memicu kecaman dari berbagai pihak, karena dianggap melanggar hukum maritim internasional.
“Para aktivis itu berusaha mengirimkan bantuan penting, termasuk makanan, susu formula bayi, serta obat-obatan yang sangat dibutuhkan,” ungkap FFC dalam pernyataan publik yang dirilis tak lama setelah penangkapan berlangsung.
Kondisi Gaza yang kini berada dalam krisis kemanusiaan semakin diperparah oleh blokade Israel. Sejak serangan besar-besaran Israel dua tahun lalu, lebih dari 50 ribu jiwa warga Palestina dilaporkan tewas, sebagian besar di antaranya adalah warga sipil.
Baca Juga: Panen Bakat, Menelusuri Kekuatan Tersembunyi Siswa dalam SIKK Fest 2025
Penahanan Greta Thunberg bukanlah insiden pertama dalam sejarah intersepsi bantuan ke Gaza. Pada 2010, dunia internasional mengecam keras aksi Israel yang menyerbu kapal Mavi Marmara. Dalam insiden tragis tersebut, sembilan aktivis asal Turki tewas akibat serangan bersenjata dari militer Israel.
Nama Greta Thunberg sendiri sudah dikenal luas sebagai simbol perjuangan lingkungan sejak usianya masih belia.
Ia pertama kali menarik perhatian dunia pada Agustus 2018 ketika melakukan aksi mogok sekolah untuk menuntut aksi nyata terhadap krisis iklim di depan gedung parlemen Swedia.
Tak lama berselang, Greta diundang untuk berbicara dalam Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Baca Juga: Ketika Anak PMI di Negeri Jiran Beraksi: Panen Karya P5 di SIKK
Dalam pidatonya yang menggugah, ia menuduh para pemimpin dunia telah mencuri masa depan generasi muda dengan janji-janji kosong soal perubahan iklim.
“Kau telah mencuri mimpiku dan masa kecilku dengan kata-katamu yang kosong… Kita berada di awal kepunahan massal, dan yang kau bicarakan hanyalah uang dan dongeng pertumbuhan ekonomi abadi. Beraninya kau!” seru Greta di hadapan forum dunia tersebut.
Pada Januari 2019, Greta kembali menjadi sorotan saat menjadi pembicara dalam World Economic Forum di Davos, Swiss.
Baca Juga: Ketika Anak PMI di Negeri Jiran Beraksi: Panen Karya P5 di SIKK
Saat itu usianya baru 16 tahun. Di tahun yang sama, majalah Time menobatkannya sebagai Person of the Year, menjadikannya salah satu tokoh muda paling berpengaruh di dunia.
Seiring waktu, perjuangan Greta meluas tak hanya pada isu iklim, tetapi juga pada berbagai persoalan keadilan sosial dan hak asasi manusia. Ia kerap menyuarakan dukungan bagi korban konflik di Ukraina, Palestina, Armenia, hingga Sahara Barat.
Penahanan Greta oleh pasukan Israel memicu gelombang solidaritas dari komunitas internasional. Banyak pihak menyerukan pembebasan dirinya dan para aktivis lain yang dinilai tengah menjalankan misi kemanusiaan, bukan aksi politik.(*)
(Artikel ini adalah bagian dari Mitra Promedia Group dan sudah tayang dengan judul “Greta Thunberg Ditangkap Angkatan Laut Israel Saat Bawa Bantuan ke Gaza”
Baca selengkapnya di: https://www.nongkrong.co/event-viral/43115322395/greta-thunberg-ditangkap-angkatan-laut-israel-saat-bawa-bantuan-ke-gaza?page=2)

Mengenal Sosok Hassan Eslaih, Jurnalis yang ‘Ditargetkan’ Israel
FEATURE: Bersama Lilmaghrib, Sukabumi Dikenal sebagai Daerah yang Someah dan Merenah