PANJI-PRATAMA.COM – Manusia diciptakan berbeda, baik dengan Malaikat maupun Iblis. Hal itu sudah merupakan Hak Keilahian yang tidak bisa diganggu gugat.
Sebagai manusia, kita terkadang bisa menjadi sangat taat seumpama malaikat, tapi juga bisa sangat cenderung kepada sifat-sifat iblis. Oleh karena itu, penting bagi manusia untuk terus berserah diri kepada Allah Swt.
Prof.DR. KH. Sofyan Sauri, M.Pd. memaparkan pembahasan tersebut berdasarkan QS Hud ayat 112. Dalam kuliah subuhnya, beliau mengambil tema: “Menguatkan Istikamah Beribadah dalam Perspektif Teologis”.
Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang beradaptasi bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan . (QS Hud : 112)
Pada bagian awal, Prof. Sofyan mencoba menguraikan asal muasal ayat ini berdasarkan interpretasi para mufasir.
Menurut al-Biqa’i, kata istaqim pada surah Hud ayat 112 mengandung makna moderasi, karena pada ayat tersebut perintah melakukan berpadu dengan larangan agar melampaui batas. Dengan demikian, istaqim adalah pertengahan antara melebihkan (melampaui batas) dan mengurangi (tidak sempurna dalam bekerja ataupun meninggalkannya).
Hal serupa dikatakan Sayyid Qutb. Menurutnya, “Istikamah adalah moderasi serta menelusuri jalan yang ditetapkan tanpa penyimpangan. Ini menuntut kewaspadaan terus-menerus, perhatian bersinambung, upaya pengamatan terhadap batas-batas jalan, pengendalian emosi yang dapat menjanjikan sedikit atau banyak, karena perintah ini merupakan tugas abadi dalam setiap gerak dari gerak-gerak hidup ini.”
Lebih lanjut Ibnu Katsir mengatakan, “Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kepada Rasulnya dan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk meneguhkan diri di atas jalan-Nya, dan ini adalah salah satu dari cara terbaik untuk mengalahkan musuh-musuh-Nya, dan kemudian Allah melarang mereka untuk berbuat zalim, bahkan kepada kaum musyrikin sekalipun, kemudian Dia menceritakan bahwa Dia Maha Melihat akan melakukan perbuatan hamba-hamba-Nya, dan tidak ada satu hal pun yang luput dari-Nya.”
Baca Juga: Peneliti Ungkap Bencana Nanoplastik di Masa Depan
Tentang kezaliman, Allah melarangnya secara mutlak untuk dilakukan kepada siapa saja, bahkan kepada orang fasik atau kafir sekalipun. Allah berfirman dalam hadits Qudsi, “Sejujurnya Aku telah melarang kezaliman atas diri-Ku sendiri, dan aku telah menjadikannya haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu).
Sedangkan Al-Qurthubi ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, “Objek yang dituju dalam pembicaraan itu adalah Rasul dan umatnya, akan tetapi ada yang mengatakan bahwa objek pembicaraan itu adalah Rasul, akan tetapi itu juga berlaku bagi umatnya”.
Dan beliau menukil pendapat As-Saddi dalam memaknai istikamah. Istikamah yang dimaksud As Saddi adalah: Mintalah keteguhan untuk berada di atas agama ini kepada Allah. Kemudian beliau menukil hadits dari Sufyan bin Abdillah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “Ya Rasulullah, menyampaikan suatu kalimat, yang saya tak akan menanyakannya kepada selainmu!” Kemudian Rasul menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah,’ kemudian mintalah keteguhan (untuk berada di dalamnya)!”
Sementara Jalaluddin Al Mahalli dalam Al Jalalain memaknai istikamah dengan “kesinambungan amal sesuai dengan perintah Allah, dan berdakwah kepadanya, sebagaimana diperintahkan kepadanya.”
Hal ini sesuai dengan HR Tirmidzi no. 3297 yang berbunyi:
“Tidaklah ada satu ayat pun yang diturunkan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lebih berat dan lebih sulit daripada ayat ini. Oleh karena itu, ketika dia ditanya, ‘Betapa cepat kamu beruban’, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Sahabatnya, ‘Yang telah membuatku beruban adalah surat Hûd dan surat-surat semisalnya.” (HR. Tirmidzi no.3297)
“Lalu, apa saja nilai-nilai pendidikan yang ada dalam ayat tersebut?” tanya Prof. Sofyan kepada hadirin yang menyaksikan ceramahnya.
Setidak-tidaknya ada empat Nilai Pendidikan yang menjadi kenyamanan.
Pertama adalah mendidik hambanya agar senantiasa istikamah dalam beribadah dan berbuat kebajikan.
Kedua adalah mengajarkan hambanya agar senantiasa dalam perintah Allah dan bertaubat di atas segala dosa dan kekhilapan.
Ketiga adalah mendidik hambanya menjadi pribadi yang taat dan tidak melampaui batas.
Keempat adalah menanamkan keimanan yang kuat dan mendekatkan diri kepada Allah serta menjauhi berbuat zalim.
Baca Juga: Resep Rahasia Kue Dorayaki, Makanan Kesukaan Doraemon Si Robot Kucing yang Sakti
“Nah, untuk itu apa keutamaan orang-orang yang istikamah dalam beribadah?” Lanjutnya.
Malaikat akan turun dan menjadi pelindung orang yang istikamah di dunia dan akhirat
Hal ini sesuai dengan QS. Fushshilat : 30-32, yaitu: “ Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allâh” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (ber-istiqâmah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih ; dan gembirakanlah mereka dengan Jannah yang telah dijanjikan oleh Allâh kepadamu. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” ;
Calon penghuni surga dan kekal di dalamnya
Hal ini sesuai dengan QS. Al-Ahqâf : 13-14, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allâh”, kemudian mereka tetap isti kamah (teguh pendirian dalam tauhid dan tetap beramal yang shalih) maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) suam cita. Mereka adalah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahqâf : 13-14);
Berdasarkan dua hal tersebut, Prof. Sofyan mengajarkan jamaahnya untuk memahami sebab-sebab apa saja seseorang dapat berbuat istikamah dalam beribadah.
1. Taufik dan hidayah dari Allâh Swt.
Hal ini sesuai dengan QS. al-An’âm: 125 , yang artinya: “ Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seolah-olah dia (sedang) mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman .” (QS. al-An’âm : 125);
2. Berdoa
Hal ini sesuai dengan QS. Al-Baqarah: 186 , yang artinya: “ Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran .” (QS. Al-Baqarah : 186); dan
3. Tidak meninggalkan amalan-amalan kebaikan yang sudah biasa dikerjakan
Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari, yaitu: “ Diriwayatkan dari ‘Abdullâh bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu anhu bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Wahai ‘Abdullâh! Janganlah kamu seperti si Fulan (si Anu), dulu dia mengerjakan shalat malam kemudian dia meninggalkannya . ( HR . al-Bukhâri no. 1152 ).
Di akhir ceramahnya, Prof. Sofyan berdoa agar kita menjadi manusia-manusia yang senantiasa mendapatkan hidayah:
“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari terpeleset dari landasan yang benar setelah mendapat hidayah.” (HR.An-Nasai)
Wallahualam. (*)

Tabrakan Dua Kereta di Bandung Dua Kereta di Bandung
IShowSpeed Akan Ke Indonesia
Ellas Tour Taylor Swift Menjadi Tur Konsep Terlaris Sepanjang Masa
Peneliti Ungkap Bencana Nanoplastik di Masa Depan
5 Fakta Menarik Kapal Pinisi jadi Google Doodle
UNESCO: Laksamana Keumalahayati untuk Dunia
Resep Rahasia Roti Kobra Ayam, Martabak Telur yang Disajikan Tengah Malam
Twitch Bolehkan Konten Seksual?