PANJI-PRATAMA.COM – Hari Kelahiran Laksamana Keumalahayati ditetapkan sebagai Hari Perayaan Internasional di UNESCO (UNESCO International Day).
Hal itu terjadi pada saat petutupan Sidang Umum ke-42 UNESCO pada tanggal 22 November 2023 di Paris, Perancis. Hal itu bertepatan juga dengan 475 tahun peringatan kelahiran Laksamana Keumalahayati.
Pada kesempatan itu, Direktur Jendral UNESCO, Audrey Azoulay, mengumumkan bahwa hari lahir tokoh pejuang asal Aceh bernama Keumalahayati sebagai Hari Perayaan Tingkat Internasional.
Sang Pahlawan Asal Aceh tersebut lahir pada tahun 1550 dan wafat pada tahun 1615. Beliau adalah Pahlawan Nasional yang dikenal sebagai Laksamana Perempuan Pertama di dunia.
Selain sebagai laksamana yang terkemuka di masa lalu, Keumalahayati adalah sosok dibalik pendirian askar Inonebalee atau pasukan perang pertama di dunia yang seluruh anggotanya adalah perempuan.
Jumlah pasukan yang berada dalam kepemimpinan Laksamana Keumalahayati adalah 40.000 orang ketika menghadapi invasi Portugis. Yang mana, ada sekitar 100 kapal galleon besar untuk setiap 400 orang per kapalnya.
Baca Juga: Resep Rahasia Gulai Telur Sederhana, Maksimalkan yang Ada di Dapur Saja
Maka dari itu, Laksamana Keumalahayati memang sudah sepantasnya mendapatkan pengakuan dari UNESCO. Apalagi, warisan keberanian, kepemimpinan, dan kontribusinya dalam membela tanah air menjadi inspirasi banyak Perempuan di dunia.
Pengusulan penetapan peringatan 475 tahun kelahiran Keumalahayati sendiri didukung oleh Malaysia, Federasi Rusia, Thailand, dan Togo.
Pengusulan penetapan tokoh ternama dari anggota UNESCO memiliki kriteria ketat. Seperti ditentukan dari tahun kelahiran atau kematian tokoh tersebut.
Selain itu, tokoh yang diusulkan harus menunjang misi UNESCO yaitu berkaitan dengan bidang Pendidikan, Budaya, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Sosial, Kemanusiaan, dan Komunikasi.
Nama-nama yang diusulkan pun harus mempertimbangkan representasi gender dan hanya dapat diajukan setelah tokoh tersebut wafat.
Selanjutnya, peringatan diberikan terhadap peristiwa yang mempunyai dampak universal atau paling tidak berdampak signifikan secara regional.
Pengusulan pun harus didukung oleh minimal dua negara.(*)

5 Fakta Menarik Kapal Pinisi jadi Google Doodle
Quishing, Modus Penipuan Terbaru yang Perlu Diwaspadai
Forum TBM: Hari Relawan Internasional, Tunjukkan Aksimu
5 Hal yang Penting untuk Resolusi Tahun 2024
SD Muhamadiyah IV Sidoarjo Bolehkan Siswanya Tidur Siang
UNESCO: Laksamana Keumalahayati untuk Dunia
Resep Rahasia Gulai Telur Sederhana, Maksimalkan yang Ada di Dapur Saja