PANJI-PRATAMA.COM – “Menurut cerita, Orang Lanun itu asalnya dari wilayah Filipina Selatan. Konon seasal dengan suku Maranau yang bertempat tinggal di tengah pulau Mindanao. Di tempat asal kami, di Sukadana, masyarakat menyebutnya sebagai Ilanun atau Iranun yang berarti orang danau.”
Setidaknya, catatan di atas adalah pengetahuan saya ketika pertama kali meriset tentang istilah Lanun.
Pada awalnya, saya menyangka bahwa Lanun identik dengan Iranun. Keduanya mempunyai pengertian sama tentang orang laut, yang pada abad ke-18 mengarah pada jejak perompak tradisional di Asia Tenggara.
Sampai suatu kali, saya membaca buku berjudul “Beberapa Nota Kecil Perihal Iranun” karya Abd. Naddin Hj. Shaiddin.
Buku ini merupakan kumpulan catatan penulis mengenai budaya, sejarah, riwayat, bahkan jejak identitas Iranun. Referensi yang digunakan dalam buku ini mulai dari pengalaman pribadi penulis, riset pustaka, dan hasil wawancara.
Bung Naddin (panggilan penulis) sendiri disinyalir membutuhkan waktu lebih dari dua puluh tahun untuk menulis esai-esai mengenai Iranun tersebut. Lantas, esai-esai tersebut dikumpulkan dan dituangkan dalam buku selama tiga bulan.
Baca Juga: Sejarah Nama Pal Merah di Jakarta Barat
Dalam buku bernuansa cover biru (saya pikir sebagai simbol kekuatan lautan sebagaimana simbol dari bangsa Iranun sendiri yang identik dengan kemaritiman), diuraikan bagaimana trah bangsa Iranun yang saat ini sudah tersebar ke seluruh dunia.
Penulis membuktikan dengan pengalamannya sendiri ketika bertemu masyarakat pewaris bahasa Iranun yang tinggal di Philipina, Malaysia, Brunei, bahkan Indonesia.
Pada salah satu bab dalam buku ini, yaitu “Dari Kota Kinabalu, Bertemu Iranun di Jakarta”, penulis bercerita tentang pertemuannya dengan masyarakat Iranun yang sedang berkuliah di Jakarta.
Bahkan, salah seorang dari mereka cukup terkejut ketika penulis piawai menggunakan bahasa Iranun saat bertemu.
Bangsa Iranun sendiri dikenal sebagai salah satu suku yang ada di Kota Belud, Sabah, Malaysia (halaman 42). Beberapa masyarakat yang tinggal di sana masih melestarikan bahasa Iranun yang berusia ratusan tahun.
Mengenai catatan bahasa Iranun ini, penulis banyak sekali membahasnya. Hal tersebut terutama berkaitan dengan kalimat-kalimat dalam bahasa Iranun yang mengandung nilai-nilai petuah secara turun temurun, seperti dupang u maumangen, yang mengandung arti sebagai “bodoh dalam cendikia.”
Baca Juga: ‘Anak-anak Korban Perang Internasional’ Memperingati ‘Hari Internasional Anak-anak Tak Berdosa Korban Agresi’
Penulis yang juga aktif sebagai wartawan ini juga menguraikan tentang cerita-cerita rakyat (folklore) masyarakat Iranun yang dapat menjadi teladan bagi generasi-generasi muda.
Dongeng Datu Matundun (halaman 87) yang dikutip penulis berkisah tentang tokoh parabel bijaksana yang berupaya menjaga kearifan dengan alam.
Dalam cerita itu pula tersirat tentang bagaimana seharusnya manusia menggunakan kecerdikannya untuk bertahan hidup dengan tidak merusak apa yang diwariskan oleh alam.
Dari sekian esai-esai yang penulis hadirkan, satu hal yang membuat saya semakin tertarik untuk menuntaskan buku ini adalah mengenai sejarah bangsa Iranun sendiri yang memang terkenal sebagai bangsa yang menguasai ilmu pelayaran.
Dari mulai kelasi-kelasinya yang pemberani, para tukang pembuat kapalnya yang terampil, mualim-mualimnya yang memahami astrologi dalam memandu kapal, hingga para tetua yang mahir dalam strategi berperang di perairan.
Semua referensi ini dapat menambah khasanah pengetahuan saya tentang dunia pelayaran. Apalagi, saya sedang membutuhkannya guna melengkapi riset novel saya.
Baca Juga: Sastra Masuk Kurikulum: Majelis Dikdasmen PNF Muhammadiyah Minta Kemendikbud Tarik Panduan Buku Sastra
Namun demikian, ada beberapa hal yang cukup mengganggu saya sebagai pembaca. Hal itu terjadi manakala saya membuka lembar demi lembar buku yang mudah sekali terlepas.
Menurut saya, penulis sebaiknya ikut memperhatikan kualitas percetakan agar bukunya tidak mudah koyak. Selain itu, bagi pembaca yang bukan seorang ahli bahasa Iranun seperti saya, sebaiknya penulis memberikan footnote yang cukup agar pembaca lebih memahami maksud dari kalimat-kalimat yang ada.
Buku ini telah menunjukkan pada pembaca bahwa tradisi melestarikan budaya leluhur merupakan jalan lain dalam berjuang.
Tidak hanya berjuang dalam ideologi, melainkan juga perjuangan dalam mempertahankan identitas dan harapan untuk masa depan.
Hal ini saya yakini benar ketika saat ini banyak sekali generasi-generasi muda yang telah kehilangan identitas menjadi mudah sekali terjebak dalam permasalahan pusaran Human Life Dinamic.
Sebuah keadaan yang menurut Profesor Achmad Sanusi, guru besar Universitas Pendidikan Indonesia, terjadi karena manusia telah kehilangan nilai di masyarakat.
Akhir kata, bagi setiap pembaca yang percaya bahwa kehidupan akan menjadi layak dengan pemertahanan nilai-nilai budaya yang baik di masyarakat, buku ini adalah sebaik-baiknya bacaan yang baik.(*)

OPINI: Puisi Esai sebagai Wahana Sastra Serantau, Menggugah Jiwa dan Meretas Batas
Siswa-siswi SIKK Memeriahkan Acara Penutupan Festival Kesusastraan, Kesenian, dan Puisi Esai Antarabangsa Sabah ke-3
Waspada Ancaman Virus B yang Menular pada Manusia
Biden Mengultimatum Netanyahu Soal Perlindungan di Gaza
RESENSI: Belajar Nilai-Nilai Kebaikan dari Catatan Warisan Budaya Bangsa Iranun