PANJI-PRATAMA.COM – Akhir-akhir ini, banyak sekali terjadi orang-orang yang dengan mudahnya bersumpah, tetapi malah mengkhianatinya. Padahal, hal itu dapat mengundang suatu bencana yang sangat pedih.
Meski demikian, dalam Islam terdapat sebuah istilah yang dinamakan dengan muhabalah. Istilah ini berkaitan dengan berkumpulnya suatu kaum terhadap perkara yang diperselisihkan kemudian saling mengucapkan “Semoga laknat Allah SWT atas pihak yang zalim di antara kita”.
Dengan demikian, mubahalah berarti pihak yang berbelah, saling doa mendoakan untuk membersihkan diri antara mereka supaya diturunkan laknat ke atas salah seorang daripada mereka yang berbohong.
Prof. Dr. KH. Sofyan Sauri, M.Pd. memaparkan kajian tersebut berdasarkan QS Ali Imran ayat 61. Dalam kuliah subuhnya, beliau mengambil tema: “Menguliti dan Memahami Makna Sumpah Muhabalah dalam Perspektif Alquran”.
Berikut ini adalah terjemahan dari ayat tersebut:
“Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah engkau memperoleh ilmu, katakanlah (Muhammad), “Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istrimu, kami sendiri dan kamu juga, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.”
Pada bagian awal, Prof. Sofyan mencoba menguraikan asal muasal ayat ini berdasarkan interpretasi para mufasir. Dikutip dari Tafsir Al Misbah, muhabalah adalah bentuk doa serta permohonan untuk melaknat orang yang bersalah. Hal ini menunjukkan bahwa Islam menjunjung tinggi kebenaran.
Baca Juga: Lomba Cerita Pendek Berhadiah Belasan Juta Digelar Media Indonesia
Sumpah ini merupakan ikhtiar manusia di level tertinggi agar Allah menunjukkan kebenaran dan menghukum orang yang bersalah. Mubahalah berasal dari kata bahlah atau buhlah yang artinya kutukan atau laknat.
Lebih lanjut, dalam Tafsir Jalalain, mubahalah dimaknai sebagai tadharru’ fiddu’aa’, yakni memohon dengan sungguh-sungguh dalam berdoa.
Di zaman Rasulullah Saw. berbagai ujian telah berlaku kepada diri baginda, keluarga, dan umat Islam ketika itu. Berasaskan keadaan itu, Allah Swt. mengajarkan baginda suatu metode untuk berhujah dengan kaum musyrik dan munafik. Kaidah unik tersebut yang dinyatakan dalam Alquran ialah mubahalah atau sumpah melaknati.
Imam Sayyid Sabiq dalam Fiqhu As-Sunnah mengatakan bahwa sumpah pada hakikatnya adalah ikrar dan janji yang sungguh-sungguh diucapkan oleh seorang manusia kepada Allah. Tuhan Yang Maha Esa akan menepati janjinya dan tidak akan melanggar sumpahnya.
“Dengan demikian, sumpah adalah suatu ikrar janji yang diucapkan manusia kepada Allah, bukan kepada manusia. Sumpah merupakan pembenaran suatu urusan atau penguatan terhadap perkara tersebut dengan menyebutkan nama Allah Swt.” Urai Prof. Sofyan kepada hadirin yang menyaksikan ceramahnya.
Lalu, bagaimana syarat-syarat muhabalah itu?
“Ada lima kriteria!” Jelasnya.
Pertama adalah ikhlas karena Allah Swt.
Hal ini sesuai dengan makna QS Al Baqarah ayat 139 yang berbunyi:
“Katakanlah (Muhammad), “Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu?’ Bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu, dan hanya kepada-Nya kami dengan tulus mengabdikan diri.”
Baca Juga: Pantun AI
Kedua adalah memiliki ilmu.
Hal ini sesuai dengan QS Al Hajj ayat 8, yang artinya:
“Dan di antara manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang memberi penerangan.”
“Yang ketiga adalah hendaknya orang yang meminta mubahalah termasuk orang saleh dan bertakwa.” Ulas Prof. Sofyan.
Adapun keterangan mengenai ini terdapat dalam QS Albaqarah ayat 186 yang berbunyi: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran.”
Keempat adalah mubahalah setelah menyampaikan hujah kepada penentang.
Hal ini sesuai dengan pesan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Zaadul Ma’ad, yang artinya: “Termasuk sunnah Rasulullah Saw. dalam berdebat dengan orang bathil apabila hujjah Allah SWT telah ditegakkan, sementara mereka tetap tidak mau kembali pada kebenaran (keras kepala dengan kebatilannya) maka mereka diajak mubahalah, Allah SWT telah memerintahkan hal tersebut kepada Rasul-Nya.”
Kelima adalah mubahalah berkaitan dengan urusan penting dalam agama.
Hal ini sesuai dengan pesan Syaikh Ahmad bin Ibrahim yang menyatakan bahwa “mubahalah tidak boleh dilakukan kecuali pada perkara penting menurut syari yang tidak sanggup dihadapi kecuali dengan bermubahalah.”
Namun tentunya, setiap perbuatan manusia akan mendapatkan konsekuensi di belakangnya. Konsekuensi mubahalah sangatlah besar, bahkan berujung kepada kematian.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani mengisahkan, menurut pengalaman di lapangan, pihak yang bermubahalah dan ternyata dialah yang salah, maka tak akan melewati masa hidupnya setahun, terhitung dari hari pelaksanaan mubahalah.
Ibnu Hajar mengatakan: “Pengalaman itu pernah terjadi padaku, ketika itu seorang ateis fanatis bermubahalah denganku, selang dua bulan, ia meninggal.”
Mubahalah juga terbukti ketika Mirza Ghulam Ahmad yang mengaku nabi berdebat dengan Syekh Tsanaullah al-Amrtasari. Keduanya saling bermubahalah. Atas seizin Allah Swt., sang pendiri Ahmadiyah itu meninggal dunia setahun usai peristiwa mubahalah.
Baca Juga: Pentigraf AI
Maka demikianlah, sebagai umat Islam diharuskan berhati-hati dalam bersikap, termasuk dalam menyatakan sebuah sumpah.
Pada akhir ceramahnya, Prof. Sofyan berdoa agar kita termasuk ke dalam orang-orang yang tidak mempermainkan sumpah dalam hidupnya agar mendapatkan rida Allah Swt. Doa tersebut berkaitan dengan QS Shaad ayat 35, yang artinya:
“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.”
Wallahualam. (*)
(Telah dimuat di: https://www.nongkrong.co/lifestyle/pr-4315410461/kajian-surat-ali-imran-ayat-61-berhati-hatilah-dalam-bersumpah?page=3 pada 1 November 2022)

Kajian Surat Al Mulk ayat 2: Menyelami Makna Kematian
Beragam Aksi Guru Dari Pusat Hingga Daerah di HGN 2022
Xi Jinping Terpilih Ketiga Kalinya
Rekomendasi Hero Marvel SNAP di Bulan Januari 2023