PANJI-PRATAMA.COM – Ramai di media sosial berdasarkan kajian ekonomi, tahun 2023 akan menjadi tahun berat bagi seluruh dunia. Kajian mengenai cobaan ekonomi tersebut menghantui masyarakat dunia dengan banyaknya prediksi resesi.
Namun demikian, dalam kajian Islam, kita mengajarkan umatnya untuk tetap tabah menghadapi cobaan. Selain itu, tetap senantiasa mengerjakan salat agar terhindar dari perbuatan yang mungkar.
Dua kajian amalan tersebut, yaitu salat dan tabah, menjadi kunci kita untuk senantiasa istianah atau memohon pertolongan Allah Swt. dari segala kesulitan di dunia dan di akhirat.
Prof. Dr. KH. Sofyan Sauri, M.Pd., memaparkan kajian tersebut berdasarkan QS Al Baqarah ayat 45. Dalam kuliah subuhnya, beliau mengambil tema: “Memaknai Makna Istianah dengan Tabah dan Salat”.
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
Pada bagian awal, Prof. Sofyan mencoba menguraikan kajian asal-muasal ayat ini berdasarkan interpretasi para mufasir.
Berdasarkan kajian Imam Jalaluddin, ditandaskan bahwa Surah Al-Baqarah ayat 45 ditujukan untuk Yahudi Madinah ketika enggan beriman kepada Allah karena terhalangi oleh kerakusan dan mabuk kekuasaan.
Mereka kemudian diperintahkan untuk bersabar, yaitu ibadah puasa yang dapat mengendurkan syahwat dan melakukan ibadah salat yang dapat membuahkan kekhusyukan dan mengikis kesombongan.
Lebih lanjut, berdasarkan kajian Imam Al-Baghawi dalam Kitab Ma’alimut Tanzil fit Tafsir wat Ta’wil, dimaklumkan bahawa dalam Surah Al-Baqarah ayat 45, tabah dan salat merupakan penolong dalam menghadapi berbagai jenis ujian.
Dalam kajian, sebagian ulama mengatakan bahwa kedua amalan ini dapat menjadi penolong dalam meraih kebahagiaan akhirat.
Baca Juga: Pentigraf AI
Imam Jalaluddin mengatakan bahwa ibadah salat itu memang teramat sulit dan berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang yang tenteram jiwanya pada ketaatan.
Imam Al-Baghawi menyebutkan keutamaan ibadah sembahyang. Ibadah sembahyang lima waktu mengandung berbagai jenis ibadah baik rohani maupun jasmani.
Menurut kajian ini, sembahyang lima waktu terdiri atas bersuci, menutup aurat, tawajuh ke Ka’bah, fokus pada ibadah, menyatakan tunduk secara jasmani, mengikhlaskan niat, memerangi setan, munajat dengan Allah, membaca Al-Qur’an, melafalkan kalimat syahadat, dan menahan diri sejenak dari makan sehingga mereka diijabah untuk menerima kebaikan akhirat dan mengatasi musibah.
“Dengan demikian, kajian salat di sini mengandung dua makna, yaitu pertama, sebagai aktivitas ibadah yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Kedua, sebagai doa. Disebut doa karena salat merupakan ibadah yang terdiri atas rangkaian doa.” Urai Prof. Sofyan kepada hadirin yang menyaksikan ceramahnya.
Dalam kajian Imam Al-Baghawi, tabah adalah upaya menahan diri dari segala maksiat. Sedangkan Khusyu’, kata Al-Baghawi, asalnya berarti tenteram.
Adapun yang dimaksud sebagai tabah menurut kajian Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah ada tiga hal, yaitu:
1. Tabah dalam menghadapi kenyataan yang terjadi, tidak panik, tetapi tetap mampu mengendalikan emosi.
2. Tetap tenang dalam menerima kenyataan dan memikirkan mengapa hal itu terjadi, apa sebabnya dan bagaimana cara mengatasinya dengan sebaik-baiknya.
3. Dengan tenang dan penuh perhitungan serta tawakal melakukan perbaikan dengan menghindari sebab-sebab kegagalan dan melakukan antisipasi secara lebih tepat berdasarkan pengalaman.
Baca Juga: Pantun AI
Selanjutnya, ada tiga tingkatan tabah yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw. Seperti dalam kitab as-Shabru wa Tsawâb ‘alaihi.
Pertama, tabah dalam ketaatan kepada Allah, yaitu seseorang senantiasa melaksanakan ketaatan.
Kedua adalah tabah dari maksiat Allah, yaitu seseorang menahan diri untuk tidak melakukan maksiat.
Ketiga adalah tabah terhadap takdir Allah, yaitu seseorang menahan diri dari sikap menentang takdir Allah, bersabar atas takdir buruk yang menimpanya, dan juga menahan diri dari sikap jengkel dan marah terhadap qadha dan qadar Allah.
Berdasarkan uraian kajian mengenai salat dan tabah tersebut, Prof. Sofyan pun menjelaskan tentang konsep istianah.
Yang mana, istianah artinya meminta pertolongan atau bantuan terutama kepada Allah Swt dalam perkara dunia dan akhirat dan tidak meminta selain kepada Allah.
Hal ini telah dijabarkan dalam QS Al Fatihah ayat 5, yang artinya:
“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”
“Istianah adalah ibadah yang paling agung yang di dalamnya terkandung dua pokok, yaitu percaya kepada Allah dan menyandarkan diri kepada-Nya.” Ulas Prof. Sofyan.
Adapun istianah itu ada lima macam berdasarkan kajian Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.
1. Istianah kepada Allah Swt;
Istianah ini berarti merendahkan diri di hadapan Allah SWT, menyerahkan seluruh perkara, serta mempercayai bahwa hanya Allah yang mampu memberi kecukupan untuk dirinya.
2. Istianah kepada makhluk dalam perkara yang dapat dilakukan;
Istianah yang dimaksud adalah memohon pertolongan atau memberi pertolongan kepada sesama umat manusia dalam hal kebaikan.
3. Istianah kepada orang mati atau kepada orang yang masih hidup dalam perkara gaib;
Istianah jenis ini termasuk dalam perkara syirik, karena dia meyakini orang tersebut mempunyai kemampuan lebih dalam mengatur alam.
4. Istianah kepada makhluk yang hidup, namun ia dapat tidak mampu membantu;
Hukum dalam kategori ini adalah perbuatan sia-sia dan tidak ada guna, contohnya meminta tolong membacakan buku kepada orang yang tidak bisa membaca.
5. Istianah dengan amal saleh dan keadaan yang dicintai Allah.
Kategori ini disyariatkan berdasarkan perintah Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al Baqarah ayat 153 yang berbunyi:
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Baca Juga: Resep Rahasia Sop Bakso Telur Puyuh Sosis, Buat Menangkal Virus Flu yang Belum Habis
Berdasarkan konsep kajian istianah ini, meminta pertolongan dengan salat dan tabah itu merupakan perbuatan yang istimewa. Berikut adalah alasan-alasannya:
1. Merupakan keteladanan yang dicontohkan Nabi Saw.
Diriwayatkan dalam hadist riwayat Abu Dawud, Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu:
“Dulu jika ada perkara yang menyusahkan Nabi Muhammad Saw., beliau mendirikan salat.”
2. Allah mencintai dan menyertai orang-orang yang tabah
Allah berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 146, yang berbunyi:
“…. Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.”
3. Salat mencegah perbuatan keji dan mungkar
Allah berfirman dalam QS. Al Ankabut ayat 45 yang berbunyi:
“Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
4. Orang yang menjaga salat terhindar dari kesesatan
Allah berfirman dalam QS Maryam ayat 59 yang berbunyi:
“Kemudian datanglah setelah mereka pengganti yang mengabaikan salat dan mengikuti keinginannya, maka mereka kelak akan tersesat.”
5. Allah memberikan kabar gembira bagi orang yang tabah
Allah berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 155 yang berbunyi:
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
6. Mendapat Pahala yang Lebih Baik dari Ketabahannya
Allah berfirman dalam QS An Nahl ayat 96 yang berbunyi:
“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
7. Mendapat tempat yang tinggi di surga atas buah ketabahannya
Allah berfirman dalam QS Al Furqan ayat 75 yang berbunyi:
“Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam.”
Pada akhir ceramahnya, Prof. Sofyan berdoa agar kita termasuk ke dalam umat yang bertawakal kepada Allah Swt. Doa tersebut berkaitan dengan QS At Taubah ayat 129, yang artinya:
“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.”
Wallahualam. (*)
(Telah dimuat di: https://www.nongkrong.co/lifestyle/pr-4315473725/kajian-surat-al-baqarah-ayat-45-memahami-makna-istianah-dengan-salat-dan-tabah?page=5 pada 6 November 2022)

Kajian Surat Al Mulk ayat 2: Menyelami Makna Kematian
Beragam Aksi Guru Dari Pusat Hingga Daerah di HGN 2022
Xi Jinping Terpilih Ketiga Kalinya
Rekomendasi Hero Marvel SNAP di Bulan Januari 2023