PANJI-PRATAMA.COM – Bahaya berdusta tidak hanya dirasakan oleh orang yang melakukannya, tetapi juga bagi orang lain yang menjadi korban dari perbuatan dustanya itu.
Maka, berdusta sangat dibenci oleh Allah Swt. pun manusia. Oleh karena itu, Allah Swt. mengancam orang-orang yang senang berdusta.
Lalu, seperti apa rupanya dampak dari bahaya berdusta itu, baik bagi pelakunya maupun bagi korban-korbannya? Berikut ini adalah kajian Surat Al-Ahzab ayat 70-71 yang disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Sofyan Sauri, M.Pd.
Dalam kuliah subuh yang disampaikannya, Prof. Sofyan Sauri memberi judul “Urgensi Kejujuran dan Bahayanya Berdusta dalam Perspektif Alquran”. Hal tersebut beliau ambil berdasarkan QS Al Ahzab ayat 70-71, yang berbunyi:
70. Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. 71. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia menang dengan kemenangan yang agung.
Pada bagian awal, Prof. Sofyan Sauri mencoba menguraikan asal-muasal ayat ini berdasarkan interpretasi para mufasir. Ahli tafsir Ikrimah dalam tafsir Ibnu Katsir berpendapat mengenai makna perkataan yang benar dalam ayat di atas. Maksud perkataan yang benar menurutnya adalah penghayatan kalimat “Tiada Tuhan selain Allah”.
Selain itu, perkataan yang benar dalam Tafsir Tahlili dari QS Al-Ahzab ayat 70 dapat didefinisikan sebagai perkataan yang jujur antara yang diniatkan dan diucapkan harus selaras. Sebab semua ucapan dan perbuatan akan diminta pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt.
Lebih lanjut, Ibnu Katsir menjelaskan: qaulan sadiidaa atau qaulun sadiid adalah perkataan yang benar, yang jujur, tidak bengkok, tidak pula menyimpang. Sebaliknya, Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan bahwa qaulan sadiidaa atau qaulun sadiid adalah perkataan yang benar dan tepat.
Baca Juga: Pentigraf AI
Meringkas dari Tafsir Ibnu Katsir oleh Ibnu Abbas dan Tafsir An-Nafahat Al-Makiyyah oleh Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi, berikut ini tafsiran dari QS Al-Ahzab Ayat 70-71, yaitu:
1. Takwa
Poin pertama dari QS Al-Ahzab ayat 70 adalah perintah takwa. Dan jika sebuah ayat dimulai dengan seruan yaa ayyuhal ladziina aamanuu, pasti setelahnya akan ada salah satu dari tiga hal.
“Pertama, perintah yang wajib dikerjakan. Kedua, larangan yang wajib dijauhi. Dan ketiga, berita penting yang harus diperhatikan.” Urai Prof. Sofyan Sairo kepada hadirin yang menyaksikan ceramahnya.
2. Berkata Jujur
Poin kedua dari QS Al-Ahzab ayat 70 adalah perintah untuk berkata yang benar dan jujur. Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman tetap bertakwa kepada-Nya.
“Dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar, yang jujur, tidak bengkok, tidak pula menyimpang.” Jelasnya.
3. Buah Ketakwaan dan Kejujuran
Poin ketiga dari QS Al-Ahzab ayat 71 adalah buah ketakwaan dan kejujuran. Jika orang yang beriman berlaku takwa dan berkata jujur, Allah menjanjikan dua hal: perbaikan amal dan ampunan atas dosa.
Ibnu Katsir menjelaskan: Allah memperbaiki amal, artinya Allah memberikan taufik untuk mengerjakan amal-amal saleh.
“Maka dari itu, sifat jujur sangat penting dan dianjurkan karena dengan sifat jujur, umat Islam akan merasakan kesejahteraan, kedamaian, dan keamanan.” Ulas Prof. Sofyan Sauri.
Beliau menambahkan bahwa Islam memandang bahwa sifat jujur ini sangat penting dan harus ada dalam setiap diri umatnya. Hal ini karena sifat jujur dapat meningkatkan kualitas diri umat Islam. Sifat jujur sebetulnya bisa membersihkan diri kita dari sifat yang tercela, seperti berbohong dan lain sebagainya.
“Jika hati dan pikiran kita bersih, maka tidak akan ada satu perilaku yang merugikan orang lain.” Pungkas Prof. Sofyan Sauri.
Baca Juga: Pantun AI
Adapun balasan dari sifat jujur telah disampaikan Allah Swt. dalam QS Al Maidah ayat 119 yang artinya:
Allah berfirman, “Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung”.
Mengenai hal ini, Rasulullah Saw. pun mencontohkan seperti yang diriwayatkan dalam HR Muslim No. 105/2607:
Dari ‘Abdullah, dia berkata: Rasulallâh Saw. bersabda: “Kalian wajib jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Jika seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allâh sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Jika seseorang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allâh sebagai seorang pendusta.”
Sebaliknya, sifat dusta mempunyai banyak bahaya. Berikut di antaranya:
Pertama, akan mendapatkan celaka.
Hal ini sesuai dengan pesan QS Al Jasiyah ayat 7 yang berbunyi:
“Celakalah bagi setiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa.”
Kedua, terhalang dari hidayah Allah Swt.
Hal ini sesuai dengan QS Al Mukmin ayat 28 yang berbunyi:
“…. Sesungguhnya Allâh tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.”
Ketiga, terkutuk dan menjadi orang yang lalai.
Sebagaimana firman-Nya dalam QS Adz Dzariyat ayat 10-11 yang artinya:
“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai.”
Keempat, mendapatkan siksaan.
Rasulullah Saw. bersabda:
“Adapun laki-laki yang engkau datangi, ujung mulutnya disobek sampai ke tengkuknya, dan hidungnya dirobek sampai ke tengkuknya, dan matanya dirobek sampai ke tengkuknya, dia adalah orang yang keluar dari rumahnya, lalu dia berdusta dengan kedustaan yang mencapai segala penjuru. (HR. Bukhari, no. 7047)”
Baca Juga: Pantun AI
Kelima, termasuk orang yang munafik.
Rasulullah Saw. bersabda:
“Tanda orang munafik itu ada tiga, dusta dalam perkataan, menyelisihi janji jika membuat janji dan khinat terhadap amanah. (HR Bukhari no. 2682 dan Muslim no. 59)”
“Ada lima cara menghindari sifat dusta,” pesan Prof. Sofyan Sauri.
- Selalu mengingat bahwa kita senantiasa bersama malaikat pencatat,
- Berkata yang baik atau diam,
- Jangan mengikuti sesuatu yang tidak diketahui,
- Menjaga lisannya, dan
- Meninggalkan segala yang meragukan.
Terakhir, Prof. Sofyan Sauri mengajak hadirin untuk selalu berdoa agar terhindar dari perbuatan yang menjerumuskan. Sebagaimana sesuai dengan HR Abu Dawud no.1551 dan At-Tirmidzi no. 3492, yang artinya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, kejahatan penglihatanku, keburukan lidahku, keburukan hatiku dan keburukan air maniku.”
Wallahualam. (*)
(Telah dimuat di: https://www.nongkrong.co/lifestyle/pr-4315647828/kajian-surat-al-ahzab-ayat-70-71-bahaya-berdusta?page=5 pada 15 November 2022)

Kajian Surat Al Mulk ayat 2: Menyelami Makna Kematian
Beragam Aksi Guru Dari Pusat Hingga Daerah di HGN 2022
Xi Jinping Terpilih Ketiga Kalinya
Rekomendasi Hero Marvel SNAP di Bulan Januari 2023