PANJI-PRATAMA.COM – Adab bertamu adalah hal yang sering dilupakan pada zaman sekarang. Baik orang yang bertamu maupun orang yang menerima tamu seakan telah lupa hak dan kewajiban yang harus dipertahankan.
Misalnya saja, ada seorang Youtuber yang membuat konten di acara hajatan orang lain. Padahal, tuan rumah sebetulnya tidak berkenan rumahnya diliput. Apalagi yang diliput adalah keadaan hal-hal yang tidak diinginkan.
Dalam kuliah subuh yang disampaikannya, Prof. Sofyan Sauri memberi judul “Memahami Adab Bertamu dan Menerima Tamu dalam Perspektif Alquran”. Hal tersebut beliau ambil berdasarkan QS Al Ahzab ayat 53, yang berbunyi:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali jika kamu diizinkan untuk makan tanpa menunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu dipanggil, maka masuklah, dan apabila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mengganggu Nabi sehingga dia (Nabi) malu kepadamu (untuk menyuruhmu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak boleh (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya setelah (Nabi wafat). Sungguh, yang demikian itu sangat besar (dosanya) di sisi Allah.”
Pada bagian awal, Prof. Sofyan Sauri mencoba menguraikan asal-muasal ayat ini berdasarkan interpretasi para mufasir. Para ahli tafsir sepakat bahwa pada ayat ini, Allah Swt. mengajarkan sopan santun atau etika terhadap rumah tangga Nabi Muhammad Saw.
Allah melarang orang-orang yang beriman untuk memasuki rumah-rumah Nabi Muhammad Saw. kecuali dengan izin beliau, untuk makan di rumahnya tanpa menunggu waktu masak makanannya. Pada masa Rasulullah pernah terjadi bahwa ada orang-orang yang menunggu waktu makannya.
Bilamana Rasulullah mengundang beberapa orang sahabat ke rumahnya untuk menghadiri walimah, maka mereka dilarang memasuki rumah Nabi Muhammad Saw., kecuali bila mereka sudah mengetahui bahwa makanannya sudah siap dihidangkan.
Bila hidangan belum siap dan mereka masih sibuk menyiapkan hidangan, maka masuknya tamu itu akan mengganggu ketenangan keluarga Nabi Muhammad Saw.
Hal ini juga mengganggu istri Nabi Muhammad Saw. yang sedang bekerja karena akan terlihat sebagian anggota tubuhnya yang tidak boleh dilihat oleh para tamu. Mereka dipersilakan masuk jika telah diundang.
Baca Juga: Pentigraf AI
Apabila telah selesai makan, supaya segera keluar tanpa memperpanjang percakapan, karena hal itu benar-benar mengganggu Nabi Muhammad Saw., dan beliau sendiri merasa malu untuk menyuruh tamunya keluar. Akan tetapi, Allah tidak segan untuk menerangkan yang benar.
Berdasarkan ayat ini, sebagai seorang muslim yang baik kita perlu mengetahui adab bagi orang yang menerima tamu:
1. Memuliakan tamu dan menyediakan hidangan
Memuliakan tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu sesuai semampunya. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik.
Allah berfirman yang mengkisahkan Nabi Ibrahim bersama tamu-tamunya pada QS Adz Dzariyat ayat 26 s.d. 27, yang berbunyi:
“Dan Ibrahim datang kepada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk, kemudian ia mendekatkan makanan tersebut kepada mereka (tamu-tamu Ibrahim) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’”
2. Mendekatkan makanan kepada tamu tatkala menghidangkan makanan
Hal ini sesuai dengan QS Adz Dzariyat ayat 27 yang berbunyi:
“Kemudian Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut kepada mereka.”
3. Tidak mengkhususkan mengundang orang-orang kaya saja, tetapi juga orang-orang miskin
Hal ini sesuai dengan HR Bukhari dan Muslim, yang berbunyi:
“Sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.”
4. Mengucapkan selamat datang kepada para tamu
Hal ini sesuai dengan HR Bukhari yang berbunyi:
“Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.”
5. Memakai pakaian bersih dan suci
Hal ini sesuai dengan QS Al A’raaf ayat 26 yang berbunyi:
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”
Baca Juga: Pantun AI
Adapun, sebaliknya adab bagi orang yang bertamu antara lain:
1. Meminta izin dan memberikan salam
Hal ini sesuai dengan QS An Nur ayat 27 yang berbunyi:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.”
2. Kembali pulang ketika yang dikunjungi tidak ada di rumah
Hal ini sesuai dengan QS An Nur ayat 28 yang berbunyi:
“Dan jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu, “Kembalilah!” Maka (hendaklah) kamu kembali. Itu lebih suci bagimu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
3. Memperhatikan batas waktu ketika bertamu
Karena jika seseorang bertamu terlalu lama, dikhawatirkan akan memberikan rasa tidak nyaman dan akan membebani sang penerima tamu. Sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Baihaqi yang berbunyi:
“Menjamu tamu adalah tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang Muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Rasulullah SAW berkata, “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.”
4. Bagi yang diundang, hendaknya memenuhi sesuai waktunya
Kecuali ada udzur, seperti takut ada sesuatu yang menimpa dirinya atau agamanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ahmad:
“Barangsiapa yang diundang, maka datangilah!”
Seorang tamu hendaknya mendoakan orang yang memberi hidangan kepadanya setelah selesai mencicipi makanan tersebut
Doa yang dibacakan sesuai dengan HR Muslim, yang berbunyi:
“Ya Allah berikanlah makanan kepada orang telah yang memberikan makanan kepadaku dan berikanlah minuman kepada orang yang telah memberiku minuman.”
Baca Juga: Pantun AI
Terakhir, Prof. Sofyan Sauri mengajak hadirin untuk selalu berdoa agar selalu diberkahi rezekinya. Sebagaimana sesuai dengan HR Muslim, yang artinya:
“Ya Allah, ampuni dosa mereka dan kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki mereka.”
Wallahualam. (*)
(Telah dimuat di: https://www.nongkrong.co/lifestyle/pr-4315790913/kajian-surat-al-ahzab-ayat-53-adab-bertamu?page=5 pada 24 November 2022)

Kajian Surat Al Mulk ayat 2: Menyelami Makna Kematian
Beragam Aksi Guru Dari Pusat Hingga Daerah di HGN 2022
Xi Jinping Terpilih Ketiga Kalinya
Rekomendasi Hero Marvel SNAP di Bulan Januari 2023